“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bermakna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bermakna. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

Serrafona


Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorang pun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun.

Sabtu, 26 November 2011

Perjalanan Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai di tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa-apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Rabu, 23 November 2011

Anak Mama

Butje adalah pemuda ganteng. Maklum masih keturunan campuran, atau biasa disebut berdarah Indo. Tentu saja banyak gadis yang tertarik kepadanya. Namun demikian soal menikah adalah suatu hambatan baginya.

"Tolong cariin, dong," bisik Butje kepada Dodo, di pesta pernikahan sobatnya itu.
"Setahuku, sudah lebih dari sepuluh gadis yang kamu pacari. Semuanya cantik-cantik lagi," ujar Dodo. "Masak tidak ada satupun yang cocok?"
"Kalau buat aku sih semua mereka itu cocok," balas Butje. "Tapi belum ada yang cocok dengan kemauan mama."

Jumat, 28 Oktober 2011

Si Boss Marah

Sebelum berangkat kerja, seorang Boss, pemilik sebuah perusahaan marah-marah kepada isterinya. Di tengah perjalanan menuju kantornya, mendadak supirnya mengerem mobil. Lagi-lagi dia marah kepada supir disebelahnya. Sampai di gerbang kantornya, karena lama membuka pintu, lagi-lagi dia marah pada satpam.

Sewaktu turun dari mobil, dia melihat 2 orang sedang duduk-duduk di dekat mobil box sambil merokok. Lalu ia mendatangi kedua orang itu sambil berkata, “Berapa gaji kamu sebulan?” orang pertama menjawab, “Satu juta tiga ratus, Pak.” Lalu ke yang satu lagi ia bertanya, “Kamu, berapa?” orang kedua menjawab, “Satu juta lima ratus, Pak.”

Lalu Boss itu mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, “Ini gaji kamu satu bulan… ini juga gaji kamu satu bulan.” Ia menyerahkan uang sebanyak Rp. 2.800.000,- kepada kedua orang itu. “Sekarang kamu berdua pergi, saya nggak mau lihat kamu berdua kerja disini lagi!” kedua orang itu pun pergi dengan buru-buru.

Kamis, 27 Oktober 2011

Ratu Victoria

Pada suatu hari, Ratu Victoria mengadakan kunjungan ke suatu pabrik kertas. Tanpa tahu siapa tamu yang datang itu, si mandor pabrik mengantarnya dan menunjukkan bagaimana proses pembuatan kertas di pabrik tersebut. Ia mengajak untuk melihat bagian pensortiran, dimana para pekerja sedang mengeluarkan barang-barang bekas yang diambil dari tempat pembuangan sampah. Setelah mendapat penjelasan tentang proses kerja pabrik kertas itu, ia juga diberitahu bahwa barang-barang bekas tersebut akan menghasilkan lembaran-lembaran kertas yang baru, yang putih bersih. Setelah kepergian Ratu Victoria, sang mandor baru mangetahui siapa tamu itu sebenarnya.

Beberapa hari kemudian, Ratu Victoria menerima sebuah bungkusan yang sangat bagus, kertas-kertas tulis yang sangat bersih bergambar Ratu. Di dalam bungkusan itu terdapat tulisan yang menjelaskan bahwa kertas tersebut dibuat dari barang-barang bekas yang pernah dilihatnya.

Selasa, 18 Oktober 2011

Peternak & Pendeta

Suatu hari minggu di Northern Minnesota, cuaca sangat buruk dan angin bertiup kencang. Pendeta berjalan dengan susah payah melalui salju yang dingin ke arah gereja kecil di kota itu. Ia mendapati hanya satu orang di gereja itu. Seorang peternak di deretan bangku paling depan.

Kata pendeta itu, “Begini Pak, cuaca hari ini sangat buruk dan di sini hanya ada kita berdua. Apa tidak lebih baik kita batalkan saja kebaktian hari ini dan kita pulang ke rumah masing-masing?”

Selasa, 04 Oktober 2011

Perjuangan Seekor Anjing Tua

Ada seekor anjing milik seorang petani. Sudah bertahun-tahun anjing itu mengabdi pada tuannya. Dengan setia ia menemani tuannya bekerja di sawah dan mengusir ternak lain yang datang ke kebun. Karena usianya yang sudah cukup tua, anjing itu menjadi semakin lemah. Siang hari itu sang anjing mencari-cari makanan di sekitar sumur tua namun tanpa sadar kakinya terperosok ke dalam sumur dan ia masuk ke dalamnya. Saat mengetahui apa yang terjadi pada anjingnya, petani itu berpikir bahwa anjing itu sudah tidak berguna lagi karena sudah tua dan sakit-sakitan, dipelihara juga tidak ada untungnya. Karena alasan itulah si petani bermaksud menguburnya saja hidup-hidup di dalam sumur tua yang tidak begitu dalam itu. Dari pada bersusah-payah mengangkatnya, lebih baik ia panggil keluarganya untuk menimbuni anjing itu.


Senin, 03 Oktober 2011

Agama Yang Benar

Di sebuah warung kopi, dua orang petani berdebat tentang kebenaran agama mereka masing-masing. Tampak kedua orang yang berdebat itu sudah mulai terbawa emosi. Perdebatan mereka di dengar oleh seorang petani lainnya.

Beberapa saat kemudian petani lain itu berseru dengan suara nyaring, “Hei..  kawan, sudah lebih 40 tahun aku selalu membawa padiku ke penggilingan  disana.” Sambil menunjuk sebuah tempat penggilingan padi tidak jauh dari mereka. Lalu ia melanjutkan, “Ada dua jalan untuk sampai di penggilingan itu. Tapi kawan, tidak pernah sekalipun juga pemilik penggilingan itu bertanya padaku; dari jalan mana aku datang. Ia cuma tanya, “Apa padimu ini baik?”

By: Brian Cavanaugh
--------------
Renungan:
Terlalu sering fanatisme dan fundamentalisme agama membelenggu kita. Kita terpenjara oleh pemahaman yang keliru tentang hidup beragama. Kita menganggap kebenaran itu hanya milik agama kita, tanpa peduli kebenaran yang dimiiki oleh agama-agama lain. Sehingga menimbulkan kebencian kita terhadap mereka yang memeluk agama lain.
Agama bukan hanya sekedar teori belaka, ia pada hakekatnya adalah praktis. Jadi agama bukan untuk diperdebatkan tetapi dilaksanakan. Saya juga sependapat dengan Brian Cavanaugh, saat kita meninggal dunia kelak, saya yakin Allah tidak bertanya, “Dari agama mana kamu datang?” tapi Dia mungkin akan bertanya, “Apakah kelakuanmu baik?”

Yakobus 2:17
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”

Matius 7:21
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Kamis, 29 September 2011

Bapak, Tuhan?

Joe selalu menjadi tetangga yang baik. Suatu saat, nyonya rumah tetangga sebelah bertanya padanya apakah ia dapat mengantar putranya ke Rumah Sakit. Sebenarnya, Joe sudah punya rencana lain untuk dikerjakan tetapi ia tidak tahu bagaimana harus mengtakan hal itu. Maka ia mendudukkan bocah itu di kursi mobilnya, mengencangkan sabuk pengaman dan melaju menuju RS yang jaraknya 50 km.

Saat mobil sedang meluncur, bocah lelaki itu menatap Joe perlahan dan bertanya, “Apakah Bapak, Tuhan?”

Sambil terkejut, Joe menjawab, “Bukan.”

Bocah itu melanjutkan, “Aku mendengar  ibuku waktu dia sedang berdoa memohon kepada Tuhan, bagaimana cara agar aku bisa di antar ke RS. Kalau Bapak bukan Tuhan, apakah Bapak bekerja untuk Dia?”

Joe menjawab, “Kadang-kadang…  tapi… ya begitulah. Karena kamu tanya begitu, maka aku ingin melakukannya lebih banyak lagi.”

- majalah Quote -

(sumber: ‘1500 Cerita Bermakna - Jilid 3’ by. Frank Mihalic)

---------------
Renungan:
Sadar atau tidak, Tuhan sering memakai hidup kita untuk menjawab doa-doa orang lain.

2 Timotius 2:21
“Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan mulia.”

Si Penggoda

Seorang wanita berhenti di sebuah motel untuk beristirahat malam. “Maaf, nyonya,” Ujar pelayan kepadanya, “semua kamar sudah terisi. Nyonya lihat pria di seberang itu? Saya baru saja memberikan padanya kamar terakhir yng kami punya.”

Wanita itu mendekati pria itu dan berkata padanya, “Tuan, karena tuan tidak mengenal aku, dan aku tidak mengenal tuan; kita tidak kenal mereka dan mereka tidak mengenal kita, bagaimana kalau tuan memperkenankan aku tidur di lantai kamarmu?”

“Baiklah”, kata pria itu, “karena nyonya tidak mengenal aku dan aku tidak mengenal nyonya; kita tidak kenal mereka dan mereka tidak mengenal kita, saya kira, yah, boleh saja.”

Maka mereka pun menuju kamar itu. Pria itu menyerahkan kepada wanita itu sebuah selimut, yang kemudian dibentangkannya di lantai. Akan tetapi, tidak lama kemudian, lantai itu terasa semakin keras. Maka wanita itu berkata lagi, “Tuan, tuan tidak mengenal aku, dan aku tidak mengenal tuan; kita tidak kenal mereka dan mereka tidak mengenal kita; sudilah kiranya tuan memperkenankan aku turut tidur di ranjang itu bersamamu!”

“Baiklah, silahkan.” Jawab pria itu.

Ketika wanita itu merasa nyaman dalam selimut di tempat tidur, ia kemudian berkata lagi, “Tuan, karena tuan tidak mengenal aku, dan aku tidak mengenal tuan; kita tidak kenal mereka dan mereka tidak mengenal kita, bagaimana sekiranya kita mengadakan 'pesta' kecil malam ini?”

Pria itu berpikir sejenak dan akhirnya menjawab, “Dengarlah, nyonya, aku tidak mengenal nyonya; dan nyonya tidak mengenal aku; kita tidak kenal mereka dan mereka tidak mengenal kita, Jadi siapa yang akan kita undang?”

Bill Harding dalam Readers’ Digest
---------------
Renungan:
Biasanya godaan itu datang sedikit demi sedikit, mula-mula kita tidak menyadarinya sampai godaan itu mulai menggeroti kehidupan kita. Tambah hari godaan itu akan semakin meningkat, dimulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang menggemparkan.
Banyak orang tergoda oleh harta, kekayaan, wanita, jabatan juga kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya; rokok, alkohol, narkoba, cemburu, iri, dengki, dendam, dsb.
Jika kita tidak segera menghindar dari godaan lalu mulai mengendalikan diri, dapat dipastikan hidup kita akan terjerumus dalam gelimang dosa dan air mata.

Kejadian 4:7
“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya,”

Rokok & Wanita

Pria yang jahat menghendaki wanita seperti batang rokok: jumlahnya banyak, semuanya berbadan langsing dan semampai. Jika mereka berbaris menunggu diseleksi, rupa mereka harus tetap ceria, dan bila keceriaan telah sirna, dibuang begitu saja.

Pria yang agak-agak jahat, lebih menyukai wanita seperti cerutu. Mereka ini lebih eksklusif, tampak lebih baik, dan bertahan lebih lama. Jika termasuk jenis yang baik, mereka tidak akan dilepas begitu saja.

Pria yang baik memperlakukan wanita seperti pipa cerutu, semakin tua semakin terpaut padanya. Walau apinya memudar atau padam berkali-kali, ia akan menghidupkannya, mengetuknya dengan mesra (penuh cinta), dan senantiasa memeliharanya. Tidak ada seorang pria pun yang saling meminjamkan pipa cerutunya.

- Gems of Thought -

(sumber: ‘1500 Cerita Bermakna - Jilid 3’ by. Frank Mihalic)

Lihat Otaknya?

Seorang tentara bepangkat letnan sangat akrab dengan bawahannya yang berpangkat sersan. Sersan itu pintar dan dapat dipercaya. Tetapi ada satu hal pada diri sersan itu yang tidak disukai oleh sang letnan; ia seorang Kristen yang taat pada imannya. Oleh sebab itu sang letnan berencana untuk menjatuhkannya dengan beberapa taktik di depan umum. Pada hari berikutnya ketika kompi itu dijadwalkan untuk inspeksi pagi, sang letnan memerintahkan sersan bawahannya itu berdiri di depan menghadap teman-temannya. Lalu letnan itu bertanya kepadanya;
               
                “Apakah kamu melihat langit?”
                “Siap. Ya, Komandan.”
                “Apakah kamu melihat matahari dan barisan tentara?”
                “Siap, Ya, Komandan.”
                “Apakah kamu bisa melihat Allah?”
                “Siap, Tidak , Komandan.”
                “Ini membuktikan bahwa Allah itu tidak ada.”

Sebaliknya, sersan itu kemudian bertanya kepada sang letnan, apakah ia dibolehkan mengajukan beberapa pertanyaan.

                “Tentu saja.” Jawab sang letnan.

Lalu sersan itu menoleh ke barisan prajurit dan bertanya kepada mereka;

                “Apakah kamu melihat kaki letnan?”
                “Ya.” Jawab mereka serentak.
                “Apakah kamu melihat kepala letnan?”
                “Ya.”
                “Apakah kamu melihat otaknya?”
                “Tidak!”
                “Nah, ini membuktikan bahwa ia tidak punya otak.”

Ketika mendengar itu serentak serdadu itu tertawa terbahak-bahak, malah letnan itu juga ikut ketawa. Kemudian sersan itu kembali menghadap ke komandannya dan berkata;

                “Saya mohon maaf atas tindakan saya memperlakukan Komandan.”
                “Hei, dengar.. itu sebuah jawaban yang brilian.” Sang letnan mengakui.
                “Saya juga mohon maaf karena telah mempermalukan kamu sersan.”

- kisah dari sebuah buku Katekismus Jerman -

(sumber: ‘1500 Cerita Bermakna - Jilid 3’ by. Frank Mihalic)

---------------
Renungan:
Untuk mengetahui keberadaan Allah, tidak cukup hanya berdasarkan pembuktian ilmiah. Kita butuh iman untuk dapat merasakan dan mengalami keberadaan-Nya.

Ibrani 11:1
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Selasa, 27 September 2011

Maafkan Aku.... Papa

Suatu pagi seorang anak menjatuhkan gelas hingga pecah, dan dia begitu ketakutan, berjalan mencari papanya, dan berkata, “Maafkan aku Papa, aku menjatuhkan gelas dan gelasnya pecah.” Papanya sangat senang memiliki anak yang dengan sadar mau mengakui kesalahannya, lalu dengan lembut papanya berkata, “ya, Anakku.. tidak apa-apa.. Papa maafkan kok!”

Malam hari menjelang tidur, anak itu datang lagi ke papanya dan berkata, “Maafkan aku Papa, tadi pagi aku menjatuhkan gelas dan gelasnya pecah.” oh iya Nak.. Papa sudah maafkan, pergilah tidur!” Sahut papanya lalu mencium kening anaknya yang lucu dan lugu itu dan mengantarnya ke kamar.

Besok paginya, si anak membangunkan papanya dan kembali mengulangi perkataan yang sama dengan kemarin, dan kali ini papanya menjawab, “Ya sayang… Papa sudah maafkan kamu, percayalah… sudahlah, pergi main sana!”

Diluar dugaan papanya, menjelang tidur malam anaknya kembali mendatanginya dan berkata, “Maafkan aku Papa, kemarin aku menjatuhkan gelas dan gelasnya pecah.” Papanya mulai bertanya-tanya, apakah anakku ini tidak percaya kalau aku sudah memaafkannya? Ternyata pada hari-hari berikutnya, anak itu selalu mengulangi perkataan yang sama. Papanya mulai resah, ini tidak lucu lagi, dalam hati papanya mulai bertanya-tanya, apakah anakku ini idiot? Apakah anakku ada kelainan jiwa dan perlu dibawa ke psikiater?

(sumber: Jarot Wijanarko, dalam ‘Inspirasi Bijak 1’)

--------------
Renungan:
Seringkali kita bertingkah seperti si anak tadi, memohon berulang-ulang pengampunan Tuhan akan sebuah dosa yang kita lakukan. Percayalah bahwa Ia sudah mengampunimu dan ambil langkah iman untuk tidak mengulangi dosa itu. Jangan jadi ‘idiot rohani’… Sebab dosa yang sudah kita akui dari dalam hati yang tulus, Tuhan telah ampuni dan tidak mengingat-ingatnya lagi. Jika kita masih tetap merasa bersalah… hati-hati, jangan-jangan itu pekerjaan roh penuduh!

Yesaya 44:22
“Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!”

Yehezkiel 33:11a
“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup.”

2 Laut Di Palestina

Di Palestina ada dua laut. Keduanya sangat berbeda. Yang satu dinamakan Laut Galilea, yakni sebuah danau yang luas dengan air yang jernih dan bisa diminum. Ikan dan manusia berenang dalam danau tersebut. Danau itu juga dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau. Banyak orang yang mendirikan rumah mereka di sekitarnya. Yesus pun berlayar di danau tersebut beberapa kali.

Laut yang lain dinamakan Laut Mati, dan sungguh-sungguh sesuai dengan namanya. Segala sesuatu yang ada di dalamnya mati. Airnya sangat asin sehingga Anda pun bisa sakit bila meminumnya. Danau itu tidak ada ikannya. Tak sesuatu pun yang tumbuh di tepiannya. Tak seorang pun ingin tinggal di sekitar danau ini karena baunya yang tidak sedap.

Yang menarik tentang kedua laut itu adalah bahwa ada satu sungai yang mengaliri keduanya. Lalu apa yang membuat keduanya berbeda? Bedanya adalah: danau yang satu menerima lalu memberi; sedangkan yang satunya hanya menerima dan menyimpan.

Sungai Yordan mengalir ke permukaan Laut Galilea dan mengalir ke luar dari dasar danau itu. Danau itu memanfaatkan air sungai  Yordan dan meneruskannya kepada danau lainnya untuk bisa dimanfaatkan juga.

Air sungai Yordan itu kemudian meneruskan perjalanannya lalu mengalir ke dalam Laut Mati namun tidak pernah ke luar lagi.

Laut Mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya sendiri. Hal itu yang membuatnya mati. Karena laut itu hanya menerima dan tidak memberi.

(sumber: John Marsabella, dalam ‘1500 Cerita Bermakna – Jilid 1’ by; Frank Mihalic)

------------------
Renungan:
Ada saatnya memberi, ada saatnya menerima. Hidup kita akan terasa lebih lebih ‘hidup’ jika kita punya kesempatan dan mau melakukan memberi sesuatu yang berarti kepada orang lain. Hal baik apa pun yang kita terima dalam hidup ini merupaan ‘berkat’ dari Tuhan dan ‘berkat’ itu harus bisa dinikmati oleh orang banyak. Kita dipakai Tuhan untuk menjadi saluran ‘berkat’-Nya bagi orang lain.

Amsal 28:27
“Siapa yang memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.”

Kisah Para Rasul 20:35
“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Senin, 26 September 2011

Jawaban Doa


Pada suatu hari seorang wanita sedang membimbing keponakannya belajar.Tapi tidak seperti biasanya, kali ini keponakannya tidak bisa berkonsentrasi. Ternyata salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata, “Bi, bolehkah aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”

Ketika bibinya mengizinkan, anak itu lalu berlutut di dekat kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Selesai berdoa dia bangkit berdiri dan melanjutkan pelajarannya.

Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab, dan dengan demikian akan melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya, “Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”

“Tidak, Bi” Jawab anak itu, “tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”

Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Maju terus dalam Tuhan, Tuhan Yesus memberkati saudara dan seisi rumah, Amin.

(Sumber: www.cerita-kristen.com)

Iman dan Perbuatan Nyata

“Tuhan berkatilah ibu janda di sebelah rumah, Engkau tahu bahwa dia tidak bisa lagi bekerja karena usianya sangat lanjut. Kemarin saya dengar bahwa dia tidak punya lagi persediaan makanan untuk hari ini. Cukupkanlah kebutuhannya ya Tuhan dan gerakkan hati orang-orang dermawan untuk mengulurkan tangan kepadanya. Buka juga jalan untuk anaknya yang sedang mencari pekerjaan sehingga kebutuhan mereka terpenuhi……………” Demikian doa yang sering diucapkan ayah Maria dalam ibadah keluarga mereka.
               
Maria yang masih remaja namun sudah banyak mengerti Firman Tuhan, sebenarnya ingin mengemukakan pendapatnya terhadap doa ayahnya. Di suatu sore dengan segala keberanian ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, tolong bereskan kamarku, siapkan buku-buku pelajaranku untuk besok, dan satu lagi, tolong ayah belikan aku nasi goreng di warung depan rumah!” “kamu ini kenapa sih Maria?” Tanya ayahnya yang mulai emosi. “Kamu kira ayah ini siapa? Beraninya kamu menyuruh ini dan itu, memangnya kamu tidak bisa kerjakan sendiri?” Hardik ayahnya, “Tapi, bukankah Ayah juga selalu menyuruh Tuhan untuk melakukan banyak hal yang sebenarnya Ayah sendiri bisa melakukannya?” Jawab Maria. “Maria, maksud kamu apa sih?” Kata ayahnya yang masih juga belum mengerti. Maria menjelaskan maksudnya, “Untuk menolong ibu janda sebelah rumah kita, Ayah kan bisa memberikan sedikit dari berkat yang Ayah peroleh agar ia bisa makan dan memenuhi kebutuhan yang lain. Tuhan kan bisa menolong ibu itu melalui Ayah sehingga Ayah tidak perlu meminta agar Tuhan melakukan sesuatu sedangkan Ayah sendiri tidak mau turun tangan.”  

(sumber:  dari sebuah majalah/buku renungan)

--------------       
Renungan:
Cerita di atas merupakan gambaran hidup banyak orang Kristen yang hanya selalu meminta agar Tuhan yang melakukan sesuatu kepada mereka yang butuh pertolongan, atau agar Tuhan menjamah hati orang lain sehingga mereka tergerak untuk menolong. Sementara dia sendiri tidak mau melakukan hal itu. Dia tidak mau berkorban dan tidak mau turun tangan. Dia tahu apa yang baik, tetapi dia suruh Tuhan untuk melakukannya.
Tuhan menempatkan kita di dunia ini sebagai perpanjangan tanganNya sehingga melalui kita, orang lain dapat merasakan pertolongan Tuhan. Melalui perbuatan kita, orang lain bisa dikuatkan imannya dan dibangkitkan semangatnya.
Kita memang perlu mendoakan sesama karena mereka butuh doa-doa kita. Tetapi selain itu mereka juga butuh uluran tangan kita yang nyata. Sekaranglah saatnya kita menyatakan kasih Tuhan lewat perbuatan nyata.

Yakobus 2:17
“Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”