“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16
Tampilkan postingan dengan label Dogmatika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dogmatika. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Pengakuan Iman Rasuli

Dalam tiap kebaktian Minggu kita mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Apakah pengakuan iman itu?  Pengakuan Iman bukan sekedar rumusan yang dihafalkan namun harus diucapkan dengan sungguh-sungguh dari hati yang terdalam dan diwujudkan dalam kehidupan beriman sehari-hari. Pengakuan Iman merupakan: Ikrar atau tekad iman kita kepada Allah, ungkapan diri pribadi dan perwujudan tanggungjawab iman kita di hadapan Allah, wujud penghormatan dan ibadah kita kepada Allah, kesaksian kita atas kebenaran dan kehendak Allah.

Pengakuan iman bukan hanya dilakukan di dalam gedung gereja saja namun secara konkrit perlu kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengakuan iman perlu kita nyatakan secara terang-terangan apabila:
1.  Berhadapan dengan penyelewengan terhadap kebenaran dan pemerkosaan keadilan
2.  Nama TUHAN dipermainkan dan kesucian iman kita dihina.
Iman kita tidak boleh disembunyikan untuk mencari aman bagi diri sendiri sebab iman itu berani hidup dalam resiko apapun dan sifatnya dinamis (Matius 10:32-33).

Jumat, 14 Oktober 2011

TRINITAS: Tiga Cara Berada Allah

Pengantar
Ketika mempersiapkan tulisan ini, saya mengingat pengalaman-pengalaman membicarakan, mendiskusikan atau mengajarkan topik ini. Timbul kesan pada saya bahwa hampir semua orang percaya yang ada dalam percakapan itu merasakan bahwa ajaran Trinitas atau Allah Tritunggal ini adalah ajaran/doktrin gereja yang sangat sulit untuk dimengerti. Belum lagi membayangkan orang-orang dari agama lain yang ikut mempercakapkannya, yang tentu saja berangkat dari sikap tidak percaya atas doktrin kita ini. Dalam sebuah tulisannya, A.A. Yewangoe (pengajar di STT dan Ketua Umum PGI) mengatakan, tuduhan bahwa seolah-olah orang Kristen menyembah tiga ilah selalu muncul dalam berbagai percakapan.

Yewangoe mengangkat cerita B.J. Boland.1 Suatu kali terjadi perdebatan antara seorang Kristen dan seorang Islam, dan yang Islam bertanya “Apakah orang-orang Kristen tidak mengabdi kepada tiga Tuhan, yang mereka namai Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus? Masa mereka mengabdi kepada tiga Tuhan, sambil mengatakan bahwa ketiganya cuma satu?” Lalu orang Kristen itu menjawab, “Tentu saya bersedia bercakap-cakap dengan saudara mengenai soal ini. Tetapi maaf saja kalau anak di kelas satu sekolah dasar menanyakan soal yang diajarkan di kelas enam, maka kita jawab: Tunggu saja dulu sampai kau sudah sampai di kelas paling atas! Bukan begitu?!”2

Minggu, 02 Oktober 2011

DI MANAKAH ORANG-ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA BERADA? (Sebuah Studi Mengenai Intermediate State)

PENDAHULUAN
Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan pada waktu kedatangan Kristus kedua kali. Pertanyaan yang segera muncul atas pengajaran Alkitab ini adalah, "Di manakah mereka selama kurun waktu antara kematian mereka dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali?" Dengan perkataan lain, "Di manakah jiwa mereka menunggu selama waktu itu?" Wajar bila kita berpikir bahwa mereka ada di suatu tempat di dalam periode antara kematian dan kebangkitan mereka. Masa atau keadaan itu disebut dengan istilah "intermediate state". Istilah ini diciptakan oleh para teolog untuk menjelaskan dengan tepat ruang dan waktu yang bersifat sebagai antara dan sementara. Kata sifat "intermediate" mengacu pada suatu kurun waktu tertentu sedangkan kata benda "state" berarti suatu kondisi manusia di bawah keadaan tertentu. Jadi, konsepsi ini secara keseluruhan menyatakan keadaan orang-orang mati dalam masa antara kematian dan kebangkitan mereka, dalam hal ini juga mencakup pertanyaan-pertanyaan yang timbul seperti: Dalam kurun waktu itu, di manakah orang-orang yang sudah meninggal dunia menunggu? Apakah mereka masih hidup? Apakah mereka sadar dan tahu siapa diri mereka? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah menerima hukuman atau pahala, atau masih dalam keadaan netral: tanpa hukuman atau pahala? Lalu bagaimana dengan roh atau jiwa mereka? Pertanyaan-pertanyaan yang penting ini dapat muncul begitu saja dalam diri kita. Tentu jawaban pertanyaan ini dapat memberikan kepada kita suatu pengharapan yang besar atau sebaliknya, kekecewaan yang mendalam. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mempunyai pengertian yang jelas tentang doktrin ini. Sehubungan dengan hal ini Millard J. Erickson berkata, ada dua alasan mengapa banyak orang Kristen tidak mampu secara efektif melayani orang yang sedang berkabung. Pertama, karena secara relatif Alkitab tidak berbicara banyak tentang doktrin intermediate state. Alasan kedua, adanya kontroversi teologis yang berkembang di dalam doktrin ini.1)

Artikel ini adalah suatu usaha untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya Alkitab katakan tentang pengajaran Intermediate State. Tujuannya adalah guna mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang hal tersebut sehingga kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang datang dari mereka yang memerlukan kepastian dan kekuatan di tengah-tengah dukacita mereka. Alur penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: