“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16
Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2012

STOLA: FUNGSI dan MAKNA TEOLOGIS


sebuah sumbang saran pemikiran
menyambut launching STOLA Pelayan di GKPI

PENDAHULUAN.
Sepotong bunyi: Surat edaran Pimpinan Pusat GKPI no.144/A.1/II/2012 tanggal 22 Pebruari 2012 hal: STOLA GKPI, mencanangkan bahwa GKPI pada periode ini akan merealisasikan pengadaan STOLA. STOLA tersebut adalah kelengkapan pelayanan jabatan. STOLA tersebut digunakan oleh Pengkhotbah (Pelayan Firman) dan Liturgist (Paragenda). Launching pemakaian STOLA secara resmi di GKPI akan dilaksanakan pada Minggu, 06 Mei 2012 yad.

Karena minimnya penjelasan STOLA ini sehingga akan menimbulkan multi tafsir yang boleh berujung kepada kesan suka atau tidak suka karena tidak dilandasi alasan teologia dan payung hukum yang tidak jelas, karena Surat Edaran berbeda dengan Surat Keputusan.

Untuk menolong para Pelayan memahami STOLA kami memberikan sumbang saran pemikiran tentang STOLA.

Rabu, 07 Desember 2011

Janganlah Menjadi Jemaat Yang Egoistis Dan Egosentris


Pendahuluan
Sudah sering diajarkan atau dikhotbahkan dalam Jemaat kita tentang tiga panggilan, tugas dan fungsi gereja, yaitu marturia atau bersaksi, koinonia atau bersekutu dan diakonia atau pelayanan kasih. Yang lain menyatakan tugas, panggilan dan fungsi gereja ialah: pastorat atau penggembalaan, diakonat atau pelayanan kasih dan apostolat atau mengabarkan Injil. Ada juga yang merumuskan tugas, panggilan dan fungsi gereja itu berdasarkan arahnya, yaitu yang arahnya ke dalam (persekutuan, pengajaran, penggembalaan dan pemuridan), yang arahnya ke atas (ibadah yang berisi pujian, doa dan persembahan), dan yang arahnya ke luar atau misi (pekabaran Injil dan pelayanan diakonia kepada orang di luar Jemaat). Sudah sering dikatakan agar Jemaat itu jangan hanya memikirkan dan mengurus dirinya saja dan jangan hanya menyediakan anggaran untuk kebutuhan internal saja. Jika demikian halnya, berarti Jemaat itu sudah menjadi Jemaat yang bersifat egoistis dan egosentris, artinya hanya terarah ke dalam dirinya dan hanya berpusat kepada dirinya sendiri.

Jumat, 11 November 2011

Panggilan Untuk Pemimpin Kristen (To Call To Christian Leader)

Di tengah hingar-bingarnya gereja dan dunia, ternyata secara hakekat mereka sedang tertidur, pemuda-pemudi dan para pemimpin Kristen tidur. Di lain pihak, berbagai agama lain sedang berjuang menegakkan ”iman” mereka. Kita puas dengan apa yang kita kerjakan, puas mencapai keuntungan materi, gereja besar, dan kehilangan inti isi iman Kristen. Di tengah situasi ini, saya ingin orang Kristen kembali kepada iman yang sejati. Inilah yang akan dikerjakan oleh Gerakan Reformed Injili.

Selama 5 tahun, mulai tahun 2004-2008 ini, kita akan membentuk sekelompok orang yang dengan jelas dapat melihat seluruh gerakan, seluruh arah, seluruh pondasi, seluruh lingkup dan seluruh kuasa perjuangan yang ada di dalamnya. Diharapkan, kelompok ini kelak bisa sungguh-sungguh menjadi suatu laskar yang besar untuk berjuang demi Kerajaan Allah. Doktrin Reformed adalah suatu konsep Iman yang merupakan pondasi, dan semangat Injili  adalah aktifitas untuk memberitakan Firman kepada orang luar, membawa orang lain  kembali kepada Firman Tuhan. Gerakan Reformed Injili mengajak gereja-gereja untuk berakar kepada Firman dan mengajak orang Kristen mengabarkan Injil keluar. Gerakan Reformed Injili berakar ke dalam, dan berbuah ke atas. Iman harus berakar dan ditanamkan ke dalam Kitab Suci dan hidup kekristenan dipaparkan kepada orang yang belum mengenal Tuhan. 

Rabu, 19 Oktober 2011

Menjangkau Yang Tidak Terjangkau (To Reach The Unreach)

Refleksi Singkat Untuk Mereposisi Tugas Panggilan Gereja

Tulisan singkat ini hendak menajamkan pergumulan gereja sebagai persekutuan umat Tuhan dalam mewartakan Kabar Baik di tengah-tengah dunia ini. Pewartaaan Kabar Baik di tengah-tengah dunia ini seringkali diaplikasikan secara sempit meskipun sudah dimaknai secara luas oleh gereja. Pemaknaan Kabar Baik secara luas, berarti gereja sudah sampai pada titik pergumulan bahwa pelayanan Kabar Baik tersebut meliputi pelayanan holistik, yakni pelayanan mimbar dan sosial. Namun, disisi lain, gereja sering ‘malu-malu’ atau ‘apatis’ untuk menyentuh pewartaan Kabar Baik dalam konteks sosial.

Sadar atau tidak sadar, pola pelayanan demikian justru menjadi cara yang efektif untuk mencabut gereja dari akarnya, yakni bahwa ia diutus ke tengah-tengah dunia ini untuk hidup di dunia ini. Artinya, Tuhan tidak pernah menghendaki gereja untuk menciptakan ‘dunia baru’, sebuah dunia yang dibatasi oleh tembok atau dinding kokoh gereja, sementara itu realitas sosial di sekitar gereja, tempat ia hidup, seakan-akan menjadi dunia luar yang tidak perlu diurus. Karena itu, tujuan tulisan ini hanya mengingatkan kita semua, bahwa gereja harus menjangkau yang tidak terjangkau selama ini. 

Senin, 17 Oktober 2011

Mengapa Tata Letak Mimbar Khotbah Kita Tidak Seragam?

Judul di atas merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan anggota jemaat, penatua juga rekan sekerja kepada penulis. Memang pada kenyataannya di gereja kita GKPI - juga gereja-gereja tetangga yang sealiran - tata letak mimbar khotbah tidak seragam, ada yang letaknya ditengah-tengah dan ada yang letaknya di sebelah kanan altar. Mengapa bisa demikian? Dalam tulisan ini penulis mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang sejarah dan makna teologisnya. Tentu kebenarannya tidaklah mutlak. Diharapkan tulisan ini mendapat tanggapan positif dari para pembaca.

Pendahuluan
GKPI yang lahir dari gereja asalnya HKBP, merupakan bagian dari persekutuan gereja-gereja Lutheran sedunia. Namun jika kita melihat tata letak altar, khususnya mimbar khotbah di gereja kita, pada umumnya tidak menggambarkan pemahaman gereja Lutheran. Gereja Lutheran menempatkan mimbar pemberitaan firman di sebelah kanan altar (jemaat melihatnya sebelah kiri). Sementara itu tata letak mimbar khotbah gereja-gereja kita banyak juga yang mengadopsi tata letak gereja Calvinis, dimana mimbar khotbah berada di tengah-tengah altar.

Rabu, 05 Oktober 2011

7 Karakteristik Gereja Yang Hidup

Gereja yang hidup adalah gereja yang - meminjam istilah Dietrich Bonhoeffer - ”ke dalam bermakna, ke luar relevan”. Dengan kata lain, kehadirannya dirasakan tidak hanya oleh umat, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya. Gereja yang hidup - pada dirinya sendiri - adalah Injil, kabar baik, bukan hanya bagi para warga jemaat di dalamnya, melainkan juga bagi masyarakat di luar gereja. Ia seperti “oase” di tengah padang gurun dunia.cBerikut ini adalah 7 karakteristik gereja yang hidup.

1. VISI YANG JELAS
Visi seumpama titik terang di ujung lorong yang gelap, kepadanya segala daya dan upaya diarahkan. Visi tidak hanya akan menjawab pertanyaan untuk apa gereja itu ada, tetapi juga ke mana gereja itu akan mengarah. Oleh sebab itu, gereja ada tidak sekedar “menggelinding”. Padat programnya, sibuk aktivitasnya, tetapi tidak jelas maknanya. Gereja mesti tahu ke mana arah tujuan dan apa yang ingin dicapai. Ia tidak berjalan bagai dalam labirin tak berujung.

Dalam Amsal 29:18 versi King James dikatakan, “Where there is no vision,the people perish.”-Tanpa visi, rakyat binasa (LAI menerjemahkan: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”). Memiliki visi seumpama anak panah yang punya sasaran bidik; titik dimana semua energi, kemampuan, dan perhatian seluruh anggota diarahkan; landasan sekaligus tujuan dari semua kegiatan dan program gereja.

Selasa, 04 Oktober 2011

MENGAJARKAN CERITA ALKITAB YANG EFEKTIF KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU (Sebuah Pedoman Sederhana)

PENGANTAR
Pelayanan Sekolah Minggu (SM) adalah dasar dari seluruh pelayanan gereja. Demikian juga dengan GKPI yang meletakkan dasar pelayanan kepada anak-anak. Karena anak-anak adalah masa depan gereja dan juga penerus warga Kerajaan Allah. Itu sebabnya guru SM memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan iman anak-anak. Kita tahu bersama bahwa Anak Sekolah Minggu kelak akan menjadi gereja yang akan datang.

Hanya saja, para pelayan gereja kurang memberi perhatian kepada pelayanan SM. Hal ini disebabkan merasa bahwa pelayanan kepada anak-anak adalah tugas para guru SM. Selain itu lebih memberi kesibukan pada pelayanan mimbar dan pembinaan orang dewasa. Padahal tanpa disadari kebiasaan orang dewasa ditentukan mulai dari tingkah laku pada masa kecil. Untuk itu sebagai Pendeta kami sangat mengucapkan terimakasih kepada seluruh Guru-guru Sekolah Minggu, yang telah rela memberi perhatian kepada anak-anak Sekolah Minggu.

Mengapa Kita Mengajar Anak-Anak?.
Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan mendasar kepada kita guru Sekolah Minggu sebelum kita memahami kenapa kita menjadi guru SM. Hal itu dimulai dari:

Senin, 03 Oktober 2011

BERGEREJA: Antara Pelayanan & Persahabatan

PELAYANAN: Sebagai Sebuah Budaya Tandingan
Kata pelayan, pelayanan, atau melayani kini telah menjadi kata yang terlalu banyak dipakai di kalangan gerejawi. Tak jarang ia berkurang, hilang atau malah sesat makna. Dalam kehidupan gereja, mereka yang mendapat predikat sebagai pelayan Tuhan atau hamba Tuhan ternyata malah dalam praktiknya memperoleh posisi terhormat dan pertama.

Seorang pendeta, misalnya, selalu pada saat yang sama disapa sebagai pelayan Tuhan dan diperlakukan sebagai seorang tuan. Antara idealisme dan realisme ternyata tak sinambung.

Pemakaian kata pelayan dan pelayanan dalam kehidupan gereja memang sudah tua usianya, tak lain karena kata ini memang sangat banyak dipergunakan di dalam Alkitab sendiri. Namun, kita perlu memahami dengan kritis bahwa pada umumnya Alkitab berbahasa Indonesia memakai kata “pelayan” sebagai sebuah eufemisme bagi kata “budak,” yang berasal dari kata Yunani doulos.

Selasa, 27 September 2011

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)

Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI) menyampaikan keprihatinan sangat mendalam atas peristiwa pemboman bunuh diri yang terjadi di GBIS Kepunten Solo pada hari Minggu 25 September 2011 jam 10.55 wib.

Kami prihatin sebab kita belum mampu belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu bahwa bahasa kekerasan tidak dapat menyelesaikan persoalan. Kita belum mampu keluar dari jebakan-jebakan kekerasan yang sangat merugikan harkat dan martabat kemanusiaan. Pada hal sebagai manusia beradab kita mempunyai cara yang lebih manusiawi untuk menyampaikan aspirasi dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Kami prihatin dengan korban-korban yang berjatuhan. Kami berharap mereka diberikan kekuatan dan pemulihan kesehatan melalui perawatan yang baik pula.

Kami menghimbau anggota-anggota jemaat di Solo dan umat Kristen di seluruh Indonesia untuk tetap tenang dan menyerahkan seluruh penyelesaian peristiwa ini kepada yang berwajib. Marilah kita berdoa agar para korban diberi pemulihan kesehatan yang memadai. Kita juga berdoa agar aparat kepolisian dan semua yang terkait di dalamnya diberi kemampuan menyelesaikan persoalan ini dengan segera melalui penegakan hukum yang berkeadilan.

Kepada seluruh pejabat Negara kami menyerukan agar bekerja secara profesional di dalam mengungkap latar belakang peristiwa ini, dan kepada pelakunya diadili menurut hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Marilah secara bersama-sama kita melestarikan Bangsa dan Negara Republik Indonesia dengan menjunjung tinggi persaudaraan dan solidaritas di antara anak bangsa dengan berpegang teguh kepada nilai-nilai Pancasila.

Tuhan beserta kita sekalian.

Jakarta, 25 September 2011
Majelis Pekerja Harian PGI


Pdt Andreas A.Yewangoe (Ketum)                                  Pdt.Gomar Gultom (Sekum)