Kamis, 14 Mei 2015
Jumat, 10 April 2015
Mazmur 133:1-3
Berkat
TUHAN bagi Kehidupan Yang Rukun
Pemazmur sadar betul bahwa ada kebaikan
dan keindahan dalam suatu kerukunan,
oleh karena itu setiap orang diajak untuk hidup dalam kerukunan.
Kalau kita membuat suatu alur, maka bisa
kita gambarkan bahwa akhir dari proses ini adalah kebaikan dan keindahan, yang
dihasilkan dari sebuah kerukunan, sedang kerukunan adalah hasil kontribusi
sikap dan tindakan yang baik dari dua atau lebih orang/pihak. Ajakan hidup
dengan rukun di dasari adanya dua atau lebih pihak dalam suatu komunitas
sehingga diperlukan sikap dan tindakan yang baik untuk menciptakan kerukunan
diantara mereka. Jadi kerukunan tidak tercipta begitu saja secara tiba-tiba
tapi merupakan andil dari orang-orang yang termasuk dalam suatu komunitas itu.
Rabu, 11 Maret 2015
Ibrani 12:18-19 (Khotbah Minggu, 15 Maret 2015)
Beribadah
Dengan Hormat Dan Takut
Pendahuluan
Ketika bangsa Israel berkumpul di gunung
Sinai untuk menerima 10 Hukum Allah, kilat dan petir menyambar-nyambar dan
bunyi guntur berguruh secara mengerikan. Bangsa Israel segera mundur dan tidak mampu
menghampiri hadirat-Nya karena ketakutan yang luar biasa.
Betapa berbedanya keadaan di Bukit Sion,
gunung anugerah Allah dimana umat manusia dipanggil untuk datang ke hadirat
Allah dengan penuh keberanian. Namun penerima surat Ibrani sedang dalam bahaya
karena mereka berkeinginan untuk kembali ke Sinai. Mereka memilih sistem pengorbanan
yang tidak sempurna daripada pengorbanan Kristus yang sekali dan untuk
selamanya, memilih legalisme yang sia-sia daripada Injil kasih karunia. Di Bukit Sion, orang kristen bertemu dengan
Yesus, Sang Pengantara. Melalui-Nya orang kristen dimampukan untuk mendatangi
hadirat Allah dan mengalami hubungan yang akrab dan intim.
Rabu, 12 November 2014
1 Tesalonika 5:1-11
Persiapan Diri Menyambut Kedatangan
Tuhan
Pendahuluan
Tema yang paling menonjol dari surat ini
adalah mengenai ‘kedatangan Kristus’ kedua kali (parousia) untuk membebaskan umatNya dari murka Allah di atas muka
bumi ini. Orang-orang yang baru bertobat di Tesalonika terganggu dengan soal kedatangan
Kristus yang kedua, karena 2 alasan:
1. Mereka khawatir tentang nasib teman-teman
mereka yang telah meninggal tidak turut diangkat ke atas awan-awan pada saat
kedatangan Yesus.
2. Mereka prihatin (takut) terhadap hari penghakiman
yang akan datang.
Untuk hal yang pertama, Paulus telah
menjelaskan tentang kebangkitan dalam 1 Tes. 4:13-18 yang memberikan berita
yang menghibur bagi jemaat Tesalonika sekaligus menolong mereka untuk saling
menguatkan (1 Tes. 4:18).
Untuk hal yang kedua, yaitu nas kita saat
ini (1 Tes. 5:1-11), Masalah yang terjadi di jemaat Tesalonika saat itu ialah ada
beberapa anggota jemaat yang mencoba ‘menghitung’ saat kedatangan Yesus yang
kedua kali, dimana melalui nubuatan, mereka berharap dapat memprediksi saat
peristiwa akhir itu tiba, agar mereka mengetahui kapan untuk mulai bersiap-siap
menyambutNya. Sebagai akibatnya ada beberapa orang yang hidup tanpa merasakan pentingnya
‘persiapan’ bagi kedatangan Tuhan. Untuk itu Rasul Paulus mengajak mereka untuk
menyadari pentingnya mengadakan ‘persiapan’ bagi kedatangan Yesus yang kedua
kali.
Zefanya 1:7+12-18 (Khotbah Minggu, 16 Nopember 2014)
Hari Tuhan Sudah Dekat
Pendahuluan
Sebagian besar kitab Zefanya adalah peringatan
serius mengenai hukuman Allah yang akan datang. Zefanya melihat datangnya
hukuman yang meliputi seluruh dunia karena dosa-dosa umat manusia (Zef 1:2; Zef
3:8), tetapi secara khusus ia fokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda
karena dosanya (Zef 1:4-18; 3:1-7). Zefanya menyampaikan nubuat yang mengimbau
agar bangsa itu bertobat dan mencari Tuhan dalam kerendahan hati sebelum
keputusan itu dilaksanakan (Zef 2:1-3).
Zefanya juga bernubuat mengenai datangnya hukuman atas lima bangsa asing: Filistia, Amon, Moab, Etiopia, dan Asyur (Zef 2:14-15). Setelah mengulas dosa-dosa Yerusalem lagi (Zef 3:1-7), sang nabi menubuatkan suatu ketika Allah akan mengumpulkan kembali, menebus, dan memulihkan umat-Nya. Mereka akan bersorak dengan gembira sebagai penyembah sejati Tuhan Allah; Dia akan ada di tengah-tengah mereka sebagai pahlawan perang yang menang (Zef 3:9-20).
Jumat, 12 September 2014
Lectio Divina (Devine Reading)
PENDAHULUAN
Istilah Lectio Divina berasal dari Origenes. Menurut asal usulnya
Lectio Divina adalah pembacaan Alkitab oleh orang-orang Kristen untuk memupuk
iman, harapan dan kasih. Lectio Divina sudah setua Gereja yang hidup dari Firman
Allah dan tergantung dari padanya seperti air yang tergantung dari sumbernya. Pada
awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan metodik, melainkan tradisi sendiri
yang diteruskan dari generasi ke generasi, lewat praktek umat Kristen.
Sistematisasi Lectio Divina dalam empat jenjang, baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150,
Guigo, seorang rahib, mengajukan teori empat jenjang dalam pembacaan Alkitab.
Hal ini didapatkannya ketika suatu kali tiba-tiba nampak dalam budinya (penglihatan)
empat tangga jenjang rohani yaitu: pembacaan, meditasi, doa dan kontemplasi.
Ini adalah tangga yang dinaiki para rahib dari bumi ke surga. Jenjangnya hanya
sedikit tetapi luar biasa tingginya dengan ujung bawah tegak di atas bumi dan
ujung atas menerobos awan-awan mencari rahasia surga. Setiap jenjang ini
menghasilkan efek yang khas dalam diri orang yang membaca Alkitab.
Rabu, 06 Agustus 2014
1 Raja-raja 19:9-18
Ingatlah, Tuhan Selalu Menyertaimu!
Pendahuluan.
Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari
panggilan orang percaya. Dan tentu saja karena menghindari penderitaan itu,
tidak sedikit orang percaya hidup jauh dari jalan panggilannya. Salah satu tokoh
Alkitab yang sempat undur dari jalan panggilan adalah Elia. Bahkan Alkitab
menceritakan pada kita bahwa nabi Elia, yang dipakai Tuhan secara luar biasa,
dapat menjadi putus asa! Ya, Elia putus asa dan meminta mati setelah lari dari
ancaman Izebel, permaisuri raja Ahab (19:1-4). Elia ketakutan karena diancam akan
dibunuh, ia melarikan diri ke padang gurun dan minta mati kepada
Tuhan. Di ayat 9 dan 13, Allah bertanya, “Apakah
kerjamu di sini, hai Elia?” Pertanyaan ini mendorong Elia berefleksi
mengenai panggilan (pelayanan) dan keberadaannya: apakah ia berada di ‘tempat’
dimana seharusnya ia dipanggil? Elia adalah seorang Nabi yang dipanggil untuk bekerja segiat-giatnya
menyatakan firman Tuhan di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan
menyembah berhala. Tetapi mengapa ia bersembunyi, dalam sebuah gua?
Bukankah seharusnya ia berada ditengah-tengah bangsanya menyampaikan firman Allah?
Jawaban Elia atas pertanyaan Tuhan
menunjukkan apa yang menjadi kegelisahan hatinya. Ia merasa sendirian
dan takut kehilangan nyawanya karena Izebel berencana hendak membunuhnya
(19:1-3). Ketakutan akan ancaman pembunuhan ini yang membuat Elia meninggalkan
jalan panggilannya.
Jumat, 27 Juni 2014
Yeremia 28:5-9
Yeremia Menentang Nubuat Palsu
Hananya
Pendahuluan
Sejak zaman Samuel, timbulah suatu golongan
di tengah-tengah bangsa Israel, yang disebut golongan “para nabi”. Mereka
bukanlah orang-orang yang dipanggil Allah secara khusus seperti Samuel, namun
pemuda-pemuda yang mempunyai semacam status mahasiswa teologi pada masa itu.
Merekapun secara khusus tinggal bersama para Nabi Allah seperti
Samuel, Elia, dan Elisa untuk belajar memahami dan mengartikan firman Allah. Di
samping belajar, merekapun terkadang bernubuat jika diilhami oleh Roh Kudus. Di
sisi lain nabi Allah seperti Yeremia, biasa dianggap sebagai mediator antara
Allah dan manusia di zaman itu. Mereka diyakini oleh umat Israel sebagai
orang-orang terpilih yang menyampaikan perkataan Allah sendiri. Karena Allah
yang berkata-kata, maka sebenarnya tindakan mereka adalah karena desakan
kekuatan yang tak dapat dijelaskan atau yang “adikodrati” melalui cara-cara
yang ganjil seperti mimpi, penglihatan atau kepenuhan Roh. Posisi yang amat
menggiurkan ini tidak jarang membuat orang-orang yang tidak menerima perwahyuan
pun ingin tampil dengan mengelabui umat demi suatu tujuan tertentu yang membawa
keuntungan, baik untuk pribadi atau kelompok tertentu. Mereka inilah yang
dalam dunia modern kita saat ini kita sebut sebagai nabi palsu.
Kitab Yeremia 28: 1-17, membahas mengenai
peran nabi Yeremia berhadapan dengan Hananya, seorang nabi Palsu. Nabi Hananya
memberi suatu nubuat “sukacita” kepada bangsa Yehuda yang sebenarnya
memprovokasi bangsa ini untuk memberontak kepada Babel. Dalam pandangan
Yeremia, perwartaan nabi Hananya ini tidaklah akan membawa umat kepada
kesejahteraan, sebaliknya justru kepada penderitaan yang tak terhindarkan.
Selasa, 24 Juni 2014
Roma 6:12-23 (Khotbah Minggu, 29 Juni 2014)
Hiduplah Dalam Pembenaran,
Pengudusan dan Kasih
Pendahuluan
Usaha manusia untuk membebaskan diri dari
kekuasaan dosa, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang melalui menuruti
hukum taurat itu sama saja dengan usaha yang dilakukan Adam dan Hawa di Taman
Eden untuk menutup ketelanjangan mereka setelah memakan buah larangan itu.
Usaha yang kita sebut sebagai “agama daun pohon ara” itu sia-sia karena tidak
memenuhi standar kekudusan surga.
Hanya penebusan yang dilakukan Kristus di
kayu salib yang dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah dosa manusia, sekali
dan untuk selamanya. Penebusan itu memenuhi syarat oleh karena menghasilkan
pengampunan dosa dan menyebabkan manusia dibenarkan dari pelanggaran terhadap
hukum Allah.
Kematian (penebusan) Kristus adalah
manifestasi dari campur tangan Allah untuk menanggulangi akibat dosa.
Intervensi ilahi ini harus dilakukan karena itulah jalan satu-satunya agar
dapat membebaskan manusia yang sudah menjadi “hamba dosa”, yang tidak dapat
membebaskan diri sendiri dari kematian.
Senin, 05 Mei 2014
Kisah Para Rasul 7:54-60 (Khotbah Minggu, 18 Mei 2014)
Menyerahkan Segenap Hidup Kepada
Tuhan
Stefanus (Yunani; Stephanos,
'mahkota') ialah satu dari 7 orang diaken yang dipilih oleh para rasul sesudah
kebangkitan Yesus, untuk mengawasi pendistribusian bantuan kepada para janda di
dalam gereja, agar para rasul bisa memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan
Firman (6:1-6). Dikatakan bahwa Stefanus lebih menonjol dari yang lainnya dalam
hal iman, kasih, kuasa rohani dan hikmat (6:5, 8, 10).
Stefanus bukan hanya setia terhadap ‘pelayanan
meja’ saja, ia menggunakan waktu pelayanannya melebihi yang dibutuhkan untuk
melakukan pekerjaan khusus yang ditugaskan kepadanya. Tuhan menyertai pelayanan
Stefanus dengan memberinya karunia dan kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan
mujizat-mujizat di antara orang banyak.
Kemudian ia berselisih dengan jemaat sinagoge
Yahudi, yang menyeretnya ke hadapan para Sanhedrin (anggota Mahkamah Agama
yang terdiri dai 70 orang) dengan dakwaan menghujat Nabi Musa dan Allah
(6:11) serta menghina Bait Allah dan Hukum Taurat (6:13-14). Stefanus, dengan penuh
hikmat, menjawab tuduhan-tuduhan itu dengan uraian ringkas tentang ‘sejarah kelam’
Israel di masa lalu dan ia balik mendakwa orang Yahudi yang masih meneruskan
tradisi nenek moyang mereka yang sesat, bahkan sampai membunuh Mesias
(6:15-7:53). Hal ini membakar amarah para Sanhedrin terhadapnya. Ia ditangkap
dan dirajam sampai mati (7:54-60) oleh sekelompok massa yang marah.
Langganan:
Postingan (Atom)



