“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Jumat, 28 Oktober 2011

Si Boss Marah

Sebelum berangkat kerja, seorang Boss, pemilik sebuah perusahaan marah-marah kepada isterinya. Di tengah perjalanan menuju kantornya, mendadak supirnya mengerem mobil. Lagi-lagi dia marah kepada supir disebelahnya. Sampai di gerbang kantornya, karena lama membuka pintu, lagi-lagi dia marah pada satpam.

Sewaktu turun dari mobil, dia melihat 2 orang sedang duduk-duduk di dekat mobil box sambil merokok. Lalu ia mendatangi kedua orang itu sambil berkata, “Berapa gaji kamu sebulan?” orang pertama menjawab, “Satu juta tiga ratus, Pak.” Lalu ke yang satu lagi ia bertanya, “Kamu, berapa?” orang kedua menjawab, “Satu juta lima ratus, Pak.”

Lalu Boss itu mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, “Ini gaji kamu satu bulan… ini juga gaji kamu satu bulan.” Ia menyerahkan uang sebanyak Rp. 2.800.000,- kepada kedua orang itu. “Sekarang kamu berdua pergi, saya nggak mau lihat kamu berdua kerja disini lagi!” kedua orang itu pun pergi dengan buru-buru.

Kamis, 27 Oktober 2011

Ratu Victoria

Pada suatu hari, Ratu Victoria mengadakan kunjungan ke suatu pabrik kertas. Tanpa tahu siapa tamu yang datang itu, si mandor pabrik mengantarnya dan menunjukkan bagaimana proses pembuatan kertas di pabrik tersebut. Ia mengajak untuk melihat bagian pensortiran, dimana para pekerja sedang mengeluarkan barang-barang bekas yang diambil dari tempat pembuangan sampah. Setelah mendapat penjelasan tentang proses kerja pabrik kertas itu, ia juga diberitahu bahwa barang-barang bekas tersebut akan menghasilkan lembaran-lembaran kertas yang baru, yang putih bersih. Setelah kepergian Ratu Victoria, sang mandor baru mangetahui siapa tamu itu sebenarnya.

Beberapa hari kemudian, Ratu Victoria menerima sebuah bungkusan yang sangat bagus, kertas-kertas tulis yang sangat bersih bergambar Ratu. Di dalam bungkusan itu terdapat tulisan yang menjelaskan bahwa kertas tersebut dibuat dari barang-barang bekas yang pernah dilihatnya.

Rabu, 26 Oktober 2011

Mengumpulkan Persembahan Tanpa Nyanyian

Adalah hal yang biasa dalam sebuah Kebaktian Minggu, jemaat menyanyikan pujian saat mengumpulkan persembahan (kolekte).  Tapi di GKPI, sejak berdirinya pada tahun 1964 yang lalu, saat mengumpulkan persembahan jemaat tidak menyanyikan pujian. Setelah persembahan yang dikumpulkan tersebut didoakan barulah jemaat menyanyikan sebuah lagu pujian yang biasanya dipilih lagu bertema ucapan syukur.

Meskipun itu merupakan tradisi - bahkan ciri khas - di GKPI, namun banyak juga Jemaat GKPI yang mengisi saat pengumpulan persembahan itu dengan memainkan alat musik (biasanya organ/keyboard secara instrument). Dengan melakukan hal itu sebenarnya, sadar atau tidak, Jemaat-Jemaat tersebut sedang mengaburkan tradisi yang justru menghilangkan makna pengumpulan persembahan di GKPI. Dengan volume suara sepelan apapun, itu tidaklah membantu jemaat untuk kusyuk dalam berdoa, apalagi kalau instrument tersebut dilantunkan dengan volume suara yang keras. Dalam hal ini, justru Jemaat-Jemaat kecil di pedesaan yang melakukannya dengan benar karena Jemaat-Jemaat kecil tersebut tidak memiliki alat musik.

Selasa, 25 Oktober 2011

Pendidikan Zaman Yesus, Sudah Ketinggalan Zaman?

Pendidikan Di Zaman Yesus
Apakah Yesus pergi ke sekolah? Apakah Yesus les matematika dan musik? Apakah Yesus pergi bermain kelereng dengan teman-temannya? Alkitab memang tidak menceritakan hal itu. Tetapi beberapa kebiasaan yang terjadi di zaman Yesus setidaknya dapat menceritakan apa yang terjadi, khususnya mengenai pendidikan Yesus pada waktu Ia kecil.

Memang Alkitab tidak mencatat kehidupan kanak-kanak Yesus. Kita hanya tahu bahwa setelah Ia diserahkan di Bait Allah dan ditantang oleh Opa Simeon, kisah kanak-kanaknya nihil di Alkitab. Baru setelah Ia berusia 12 tahun, dikisahkan bahwa Ia kembali pergi ke Bait Allah bersama orangtuanya.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin Yesus berdialog dengan para ahli di Bait Allah jika Ia tidak belajar apa-apa sepanjang masa kanak-kanaknya. Seperti anak-anak Yahudi di zaman Yesus, Yesus rupanya juga berguru dari ayahnya. Pada masa itu, seorang ayah bukan hanya berfungsi sebagai orangtua tetapi juga sekaligus sebagai guru bagi anak-anaknya. Seorang ayah bertanggungjawab mengajarkan Taurat dan menceritakan tradisi Yahudi kepada anak-anaknya. Menurut Talmud Yerusalem, sekolah yang didirikan oleh Raja Alezander Yanaeus pada abad pertama SM hanya dibuka untuk anak-anak yang tidak berayah lagi (anak yatim). Di sekolah itu, peran ayah yang hilang di dalam keluarga digantikan secara sempurna oleh para pengajarnya. Itu sebabnya, sampai usia 12 tahun bisa kita simpulkan bahwa Yesus tidak bersekolah karena ia masih memiliki ayah.

Senin, 24 Oktober 2011

1 Yohanes 4:17-21 (Khotbah Epistel)

Mengasihi Allah = Mengasihi Sesama

Pendahuluan
Perintah utama bagi manusia adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia seperti diri sendiri. Persoalannya, apakah kita sudah mengasihi dengan sempurna? Apakah kasih yang selama ini kita tunjukkan dan lakukan sudah cukup? Apakah cara kita mengasihi sudah benar?

Meskipun kasih-mengasihi merupakan sikap yang semestinya ada dalam diri orang Kristen, ternyata tidak semua bisa menerapkannya dengan sempurna. Banyak yang masih mengasihi dengan setengah-setengah. Sikap yang setengah-setengah tentu saja jauh dari cukup. Bahkan masih banyak juga yang - bukannya mengasihi tapi malah membenci dan memusuhi saudaranya.

Minggu, 23 Oktober 2011

Hukum "Tabur-Tuai" Dalam Iman Kristen

Pembahasan tema “kita menuai dari apa yang kita tabur” (what we sow, what we reap) mengesankan suatu pembahasan yang mengarah kepada konsep hukum karma yang umumnya dihayati oleh umat Hindu atau Budha. Sebab bukankah hanya agama Hindu atau juga Budha yang sangat terkenal dengan hukum karma? Sebab karma dalam agama Hindu dihayati sebagai: “The total effect of a person's actions and conduct during the successive phases of the person's existence, regarded as determining the person's destiny, especially, in his next incarnation”. Hukum karma dipahami sebagai suatu akibat menyeluruh dari seluruh dan perbuatan seseorang yang dilakukan selama hidupnya, yang mana hasil dari perbuatannya tersebut akan menentukan nasib dirinya khususnya dalam inkarnasi pada kehidupan seseorang di masa mendatang. Mungkin itu sebabnya selaku orang Kristen jarang mengulas hukum “tabur-tuai” karena dengan tegas iman Kristen menyatakan bahwa tidak ada inkarnasi pada masa mendatang setelah seseorang meninggal. Dalam konteks ini iman Kristen memang tidak sejalan dengan ajaran agama Hindu atau Budha soal kehidupan di masa mendatang. Sebab dalam iman Kristen setelah kematian, seseorang tidak mengalami inkarnasi (kelahiran kembali) lagi, tetapi dia harus mempertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah atas apa yang telah dia lakukan dan imani sepanjang dia hidup. Sebaliknya agama Hindu atau Budha umumnya berpikir secara siklis, yang mana kehidupan seseorang di masa kini menentukan kualitas inkarnasinya di masa mendatang. Tetapi bagaimana sikap iman Kristen dan sikap agama Hindu atau agama-agama lain dengan hukum “apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai”? Sesungguhnya hukum “tabur-tuai” merupakan hukum yang telah dikenal secara umum dan alamiah dalam kehidupan ini. Lima puluh tahun sebelum Kristus lahir, seorang filsuf bangsa Romawi yaitu Marcus T. Cicero, berkata, “As you have sown so shall you reap” (sebagaimana kamu telah menabur, demikian pula kamu akan menuainya). Alam juga mengajarkan hal yang sama. Kita hanya menuai buah mangga ketika kita menabur benih atau biji buah mangga, dan tidak mungkin kita menuai buah yang lain.

Jumat, 21 Oktober 2011

Markus 10:17-27 (Khotbah Minggu, 23 Oktober 2011)

Orang Kaya Sukar Masuk Kerajaan Allah

Pendahuluan
Tampaknya ada suatu rahasia di balik orang-orang miskin. Mengapa mereka disebut sebagai orang berbahagia (Matius 5:3, Lukas 6:20)? Mengapa orang kaya tidak mendapat keistimewaan itu? Bahkan seorang kaya yang ingin mengikut Yesus pun diminta-Nya membagikan seluruh kekayaannya kepada orang miskin - yang berarti ia akan tidak berharta lagi, baru boleh menjadi pengikut-Nya - padahal kehidupan rohaninya nyata-nyata lebih bagus daripada kebanyakan kita (Markus 10:17-27)?

Ini tidak bermaksud sinis terhadap kekayaan dan kepada orang kaya. Kitab Amsal mengatakan, “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku” (Amsal 30:8). “Sebab si miskin pun ada kemungkinan mencuri dan mencemarkan nama Allah,” tuturnya kemudian.

Kamis, 20 Oktober 2011

Sang Pendeta


Kalau ia muda, dianggap kurang pengalaman…
Kalau rambutnya beruban, dianggap terlalu tua…

Kalau keluarganya besar, ia beban bagi jemaat…
Kalau tidak punya anak, ia tidak bisa diteladani…

Kalau isterinya aktif, dituduh mau menonjolkan diri…
Kalau tidak…, berarti tidak mendukung pelayanan suami…

Kalau khotbahnya membaca, sangat membosankan…
Kalau luar kepala, berarti tidak mempersiapkan diri…

Rabu, 19 Oktober 2011

Jembatan Harapan

Sore itu perasaan Gedok sedang sangat kelam. Sepulang dari kerja ia langsung menyelonong masuk ke rumah dan berbaring di ranjangnya. Bagaimana perasaannya tidak kelam, dia sedang menanggung hutang ratusan juta rupiah!?!

Setahun yang lalu dia meminjam uang kepada beberapa relasi dekatnya. Bunga dari pinjaman tersebut dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Gedok menggunakan uang tersebut untuk membuka sebuah café. Bisnisnya berjalan lancar sekali, pengunjung café tersebut semakin banyak dan dia terus menambah fasilitas café-nya untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi.

Hypnotherapy & Iman Kristen

Belakangan ini kita sering mendengar dan melihat berbagai cara penyembuhan dalam kehidupan di masyarakat maupun melalui tayangan TV. Banyak di antaranya proses penyembuhan itu dengan terapi. Salah satu di antaranya adalah Hypnotherapy. Pertanyaannya, apa pendapat gereja terutama penganut iman Kristen mengenai Hypnotherapy, terapi kesehatan, mental dan lain-lain dengan cara konseling dan hipnotis?

Berita mengenai hipnotis biasanya berkaitan dengan sebuah kejahatan. Misalnya: orang yang ditepuk dari belakang lalu menjadi tidak sadar dan kemudian dikuras hartanya. Nah, bagaimana dengan hypnotherapy?