“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Jumat, 14 Agustus 2015

Ibrani 13:1-15

Kasih Persaudaraan
(Kehidupan Kristen Dalam Praktik)

Pendahuluan
Penulis Ibrani mengakhiri suratnya dengan nasihat-nasihat yang berisi dorongan-dorongan agar pembaca surat ini mempunyai kehidupan yang berpadanan dengan iman. Wujud iman tidak hanya tampak dari keyakinan orang Kristen untuk tidak menyangkal Kristus dan ketekunannya mengikut Dia, tetapi harus juga dapat dilihat dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Praktik iman harus dimulai dari lingkungan sendiri, yaitu keluarga dan gereja. Nasihat-nasihat penulis Ibrani ini bersifat praktis agar iman para pembacanya dapat dilihat oleh orang banyak.

Selasa, 02 Juni 2015

2 Korintus 6:1-13 (Khotbah Minggu, 21 Juni 2015)

Tidak Menyianyiakan Kasih karunia Allah

Pendahuluan
Usaha untuk mencapai sebuah prestasi lebih mudah dibandingkan usaha untuk mempertahankannya. Hal ini berlaku dalam berbagai bidang, misalnya; dalam bidang olahraga, pendidikan, dll. Demikian juga hal ini berlaku dalam bidang kerohanian. Lebih mudah memperoleh pengampunan dibandingkan mempertahankan pengampunan itu, lebih mudah memperoleh kasih karunia Allah dibandingkan mempertahankan kasih karunia itu.

Gereja Korintus ada di dalam bahaya menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah mereka terima. Mereka ada dalam bahaya mengabaikan nasihat Paulus dan dibingungkan oleh rupa-rupa pengajaran yang lain. Paulus mendorong mereka untuk tidak menunda-nunda kesempatan untuk membiarkan Kristus masuk di dalam kehidupan mereka.

Kamis, 14 Mei 2015

Matius 28:16-20 (Khotbah Hari Kenaikan Tuhan Yesus)

 BERITAKANLAH INJIL!


PENDAHULUAN.
Nats ini dikenal sebagai “Amanat Agung” Tuhan Yesus Kristus kepada semua orang percaya. Mula-mula amanat ini ditujukan kepada ke-11 murid lalu diteruskan kepada semua orang Kristen di setiap zaman.

Jumat, 10 April 2015

Mazmur 133:1-3

Berkat TUHAN bagi Kehidupan Yang Rukun

Pendahuluan
Pemazmur  sadar betul bahwa ada kebaikan dan keindahan dalam suatu kerukunan, oleh karena itu setiap orang diajak untuk hidup dalam kerukunan.

Kalau kita membuat suatu alur, maka bisa kita gambarkan bahwa akhir dari proses ini adalah kebaikan dan keindahan, yang dihasilkan dari sebuah kerukunan, sedang kerukunan adalah hasil kontribusi sikap dan tindakan yang baik dari dua atau lebih orang/pihak. Ajakan hidup dengan rukun di dasari adanya dua atau lebih pihak dalam suatu komunitas sehingga diperlukan sikap dan tindakan yang baik untuk menciptakan kerukunan diantara mereka. Jadi kerukunan tidak tercipta begitu saja secara tiba-tiba tapi merupakan andil dari orang-orang yang termasuk dalam suatu komunitas itu.

Rabu, 11 Maret 2015

Ibrani 12:18-19 (Khotbah Minggu, 15 Maret 2015)

Beribadah Dengan Hormat Dan Takut

Pendahuluan
Ketika bangsa Israel berkumpul di gunung Sinai untuk menerima 10 Hukum Allah, kilat dan petir menyambar-nyambar dan bunyi guntur berguruh secara mengerikan. Bangsa Israel segera mundur dan tidak mampu menghampiri hadirat-Nya karena ketakutan yang luar biasa.

Betapa berbedanya keadaan di Bukit Sion, gunung anugerah Allah dimana umat manusia dipanggil untuk datang ke hadirat Allah dengan penuh keberanian. Namun penerima surat Ibrani sedang dalam bahaya karena mereka berkeinginan untuk kembali ke Sinai. Mereka memilih sistem pengorbanan yang tidak sempurna daripada pengorbanan Kristus yang sekali dan untuk selamanya, memilih legalisme yang sia-sia daripada Injil kasih karunia.  Di Bukit Sion, orang kristen bertemu dengan Yesus, Sang Pengantara. Melalui-Nya orang kristen dimampukan untuk mendatangi hadirat Allah dan mengalami hubungan yang akrab dan intim.

Rabu, 12 November 2014

1 Tesalonika 5:1-11

Persiapan Diri Menyambut Kedatangan Tuhan

Pendahuluan
Tema yang paling menonjol dari surat ini adalah mengenai ‘kedatangan Kristus’ kedua kali (parousia) untuk membebaskan umatNya dari murka Allah di atas muka bumi ini. Orang-orang yang baru bertobat di Tesalonika terganggu dengan soal kedatangan Kristus yang kedua, karena 2 alasan:
1.   Mereka khawatir tentang nasib teman-teman mereka yang telah meninggal tidak turut diangkat ke atas awan-awan pada saat kedatangan Yesus.
2.   Mereka prihatin (takut) terhadap hari penghakiman yang akan datang.

Untuk hal yang pertama, Paulus telah menjelaskan tentang kebangkitan dalam 1 Tes. 4:13-18 yang memberikan berita yang menghibur bagi jemaat Tesalonika sekaligus menolong mereka untuk saling menguatkan (1 Tes. 4:18).

Untuk hal yang kedua, yaitu nas kita saat ini (1 Tes. 5:1-11), Masalah yang terjadi di jemaat Tesalonika saat itu ialah ada beberapa anggota jemaat yang mencoba ‘menghitung’ saat kedatangan Yesus yang kedua kali, dimana melalui nubuatan, mereka berharap dapat memprediksi saat peristiwa akhir itu tiba, agar mereka mengetahui kapan untuk mulai bersiap-siap menyambutNya. Sebagai akibatnya ada beberapa orang yang hidup tanpa merasakan pentingnya ‘persiapan’ bagi kedatangan Tuhan. Untuk itu Rasul Paulus mengajak mereka untuk menyadari pentingnya mengadakan ‘persiapan’ bagi kedatangan Yesus yang kedua kali.

Zefanya 1:7+12-18 (Khotbah Minggu, 16 Nopember 2014)

Hari Tuhan Sudah Dekat

Pendahuluan
Sebagian besar kitab Zefanya adalah peringatan serius mengenai hukuman Allah yang akan datang. Zefanya melihat datangnya hukuman yang meliputi seluruh dunia karena dosa-dosa umat manusia (Zef 1:2; Zef 3:8), tetapi secara khusus ia fokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda karena dosanya (Zef 1:4-18; 3:1-7). Zefanya menyampaikan nubuat yang mengimbau agar bangsa itu bertobat dan mencari Tuhan dalam kerendahan hati sebelum keputusan itu dilaksanakan (Zef 2:1-3).

Zefanya juga bernubuat mengenai datangnya hukuman atas lima bangsa asing: Filistia, Amon, Moab, Etiopia, dan Asyur (Zef 2:14-15). Setelah mengulas dosa-dosa Yerusalem lagi (Zef 3:1-7), sang nabi menubuatkan suatu ketika Allah akan mengumpulkan kembali, menebus, dan memulihkan umat-Nya. Mereka akan bersorak dengan gembira sebagai penyembah sejati Tuhan Allah; Dia akan ada di tengah-tengah mereka sebagai pahlawan perang yang menang (Zef 3:9-20).

Jumat, 12 September 2014

Lectio Divina (Devine Reading)

PENDAHULUAN 
Istilah Lectio Divina berasal dari Origenes. Menurut asal usulnya Lectio Divina adalah pembacaan Alkitab oleh orang-orang Kristen untuk memupuk iman, harapan dan kasih. Lectio Divina sudah setua Gereja yang hidup dari Firman Allah dan tergantung dari padanya seperti air yang tergantung dari sumbernya. Pada awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan metodik, melainkan tradisi sendiri yang diteruskan dari generasi ke generasi, lewat praktek umat Kristen. Sistematisasi Lectio Divina dalam empat jenjang, baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150, Guigo, seorang rahib, mengajukan teori empat jenjang dalam pembacaan Alkitab. Hal ini didapatkannya ketika suatu kali tiba-tiba nampak dalam budinya (penglihatan) empat tangga jenjang rohani yaitu: pembacaan, meditasi, doa dan kontemplasi. Ini adalah tangga yang dinaiki para rahib dari bumi ke surga. Jenjangnya hanya sedikit tetapi luar biasa tingginya dengan ujung bawah tegak di atas bumi dan ujung atas menerobos awan-awan mencari rahasia surga. Setiap jenjang ini menghasilkan efek yang khas dalam diri orang yang membaca Alkitab.

Rabu, 06 Agustus 2014

1 Raja-raja 19:9-18

Ingatlah, Tuhan Selalu Menyertaimu!

Pendahuluan.
Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari panggilan orang percaya. Dan tentu saja karena menghindari penderitaan itu, tidak sedikit orang percaya hidup jauh dari jalan panggilannya. Salah satu tokoh Alkitab yang sempat undur dari jalan panggilan adalah Elia. Bahkan Alkitab menceritakan pada kita bahwa nabi Elia, yang dipakai Tuhan secara luar biasa, dapat menjadi putus asa! Ya, Elia putus asa dan meminta mati setelah lari dari ancaman Izebel, permaisuri raja Ahab (19:1-4). Elia ketakutan karena diancam akan dibunuh, ia melarikan diri ke padang gurun dan minta mati kepada Tuhan. Di ayat 9 dan 13, Allah bertanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Pertanyaan ini mendorong Elia berefleksi mengenai panggilan (pelayanan) dan keberadaannya: apakah ia berada di ‘tempat’ dimana seharusnya ia dipanggil? Elia adalah seorang Nabi yang dipanggil untuk bekerja segiat-giatnya menyatakan firman Tuhan di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Tetapi mengapa ia bersembunyi, dalam sebuah gua? Bukankah seharusnya ia berada ditengah-tengah bangsanya menyampaikan firman Allah?

Jawaban Elia atas pertanyaan Tuhan menunjukkan apa yang menjadi kegelisahan hatinya. Ia merasa sendirian dan takut kehilangan nyawanya karena Izebel berencana hendak membunuhnya (19:1-3). Ketakutan akan ancaman pembunuhan ini yang membuat Elia meninggalkan jalan panggilannya.

Jumat, 27 Juni 2014

Yeremia 28:5-9

Yeremia Menentang Nubuat Palsu Hananya

Pendahuluan
Sejak zaman Samuel, timbulah suatu golongan di tengah-tengah bangsa Israel, yang disebut golongan “para nabi”. Mereka bukanlah orang-orang yang dipanggil Allah secara khusus seperti Samuel, namun pemuda-pemuda yang mempunyai semacam status mahasiswa teologi pada masa itu. Merekapun secara khusus tinggal bersama para  Nabi Allah seperti Samuel, Elia, dan Elisa untuk belajar memahami dan mengartikan firman Allah. Di samping belajar, merekapun terkadang bernubuat jika diilhami oleh Roh Kudus. Di sisi lain nabi Allah seperti Yeremia, biasa dianggap sebagai mediator antara Allah dan manusia di zaman itu. Mereka diyakini oleh umat Israel sebagai orang-orang terpilih yang menyampaikan perkataan Allah sendiri. Karena Allah yang berkata-kata, maka sebenarnya tindakan mereka adalah karena desakan kekuatan yang tak dapat dijelaskan atau yang “adikodrati” melalui cara-cara yang ganjil seperti mimpi, penglihatan atau kepenuhan Roh. Posisi yang amat menggiurkan ini tidak jarang membuat orang-orang yang tidak menerima perwahyuan pun ingin tampil dengan mengelabui umat demi suatu tujuan tertentu yang membawa keuntungan, baik untuk pribadi atau kelompok tertentu. Mereka inilah yang dalam dunia modern kita saat ini kita sebut sebagai nabi palsu.

Kitab Yeremia 28: 1-17, membahas mengenai peran nabi Yeremia berhadapan dengan Hananya, seorang nabi Palsu. Nabi Hananya memberi suatu nubuat “sukacita”  kepada bangsa Yehuda yang sebenarnya memprovokasi bangsa ini untuk memberontak kepada Babel. Dalam pandangan Yeremia, perwartaan nabi Hananya ini tidaklah akan membawa umat kepada kesejahteraan, sebaliknya justru kepada penderitaan yang tak terhindarkan.