“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Sabtu, 08 September 2012

Yesaya 50:4-9a (Khotbah Epistel)

Hamba Yang Sejati

Pendahuluan
Nas ini termasuk dalam kumpulan “Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan” yang juga terdapat di pasal 42:1-6; 49:1-6; dan 52:13-53:12. Dalam bagian ini memang tidak digunakan istilah ‘Hamba Tuhan”, namun istilah ‘murid’. Di sini kita akan memperhatikan isi syairnya untuk mempelajari bagaimana ‘profil’ seorang murid Tuhan yang dipaparkan.
-  Ayat 4-5a: Bagaimana kehidupan seorang murid dalam hal persekutuannya dengan Tuhan?
-  Ayat 5-6: Bagaimana penghayatan dan sikap seorang murid dalam menghadapi penderitaan?
-  Ayat 7a, 8a, 9a: Bagaimana keyakinan seorang murid terhadap Tuhannya?
-  Ayat 7b, 8b, 9b: Bagaimana keyakinan itu berdampak khusus dalam diri murid itu sendiri: baik dalam kaitannya langsung dengan Tuhan, maupun dengan sesama?

Kitab Yesaya berisi banyak nubuat tentang "Hamba Tuhan", terutama pada pasal-pasal 49:1-57:21 yang pada akhirnya bermuara pada Yesus Kristus. Pelayanan-Nya membawa pendamaian bagi dosa, keselamatan bagi semua bangsa, pemulihan Israel, dan hukuman atas orang fasik.

Penjelasan
Ayat 4-6:
Allah menegur Israel yang mengeluh dan mempersalahkan Allah atas penderitaan mereka di pembuangan. Hukuman Allah atas mereka terjadi karena mereka tidak mau taat kepada-Nya sebagai hamba Allah yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang gagal.

Kontras sekali dengan hamba yang dinyanyikan dalam nas ini. Di sini, hamba Allah rela menjadi murid yang taat kepada Allah. Setiap hari ia duduk di bangku sekolah milik Allah untuk berguru pada-Nya. Telinganya disendengkan untuk mendengar segala pengajaran-Nya (ay. 5).

Demi melaksanakan panggilan-Nya, Ia menundukkan diri menjadi murid Tuhan. "Lidah" dapat berarti "bahasa", atau dapat pula berarti "kemampuan berbicara" (ay. 4). Dikaruniai "lidah seorang murid" berarti "diajar untuk mengatakan apa yang didengar dari Tuhan". Dengan demikian dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Namun lebih dari itu, maknanya ternyata lebih dalam lagi. Kata-kata Sang Hamba juga harus menegaskan dan menggarisbawahi kata-kata Tuhan yang mengampuni dan menyelamatkan. Itu yang Tuhan harapkan dari Hamba-Nya. Sebab itu setiap pagi Tuhan membukakan dan menajamkan pendengaran-Nya. Segenap kehidupan Sang Hamba harus diserahkan untuk meneruskan firman Tuhan yang Ia dengar. Berserah berarti juga tetap taat dan setia meski orang lain menolak pemberitaan-Nya (ay. 6).

Melalui bentuk kontras tadi, Tuhan Yesus. dinyatakan sebagai Israel sejati, Hamba yang taat secara sempurna. Lidah seorang murid, artinya Mesias akan berbicara seperti orang yang telah menerima pesan Allah untuk menghibur orang-orang yang letih lesu karena dosa. Lidahnya tidak putus-putus memperkatakan firman Allah agar dapat menguatkan hati yang lemah dan semangat yang pudar. Setiap pagi, menandai persekutuan-Nya yang terus-menerus dengan sang Bapa. Bahkan saat orang-orang yang dilayaninya menolak dan menghina bahkan menganiaya-Nya ia tetap setia menjalankan tugas kehambaan-Nya.

Ayat 7-9:
Dalam menanggung derita dan aniaya ‘Hamba Allah’ itu tidak merasa takut apalagi malu sebab Ia tahu bahwa Ia menyatakan kebenaran Allah. Dan sangat yakin bahwa Allah ada di pihaknya dan akan membela serta membuktikan kebenaran-Nya (ay. 7-9).

Jangan biarkan "lidah" kita menjadi "lidah yang tak bertulang", yang tidak bisa kita kontrol. Sebaliknya berusahalah dengan segenap daya menjadikan lidah kita sebagai "lidah seorang murid". Artinya lidah seorang yang sudah diajar, yaitu yang dikendalikan sehingga bermanfaat. Banyak pelayan Tuhan yang kegunaannya menjadi sangat berkurang karena lidah yang tidak dikekang. Entah karena kata-kata yang sembarangan atau kuasa rohani yang bocor melalui percakapan yang sembrono (Pkh. 5:2). Mungkin juga karena kata-kata digunakan bukan untuk memberitakan kebenaran melainkan untuk menyenangkan pendengaran orang lain. Maka yang ada hanyalah penyesatan, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan (Mat. 12:36-37). Salah satu ukuran kedewasaan atau kematangan rohani seseorang adalah apa yang dikeluarkan dari mulutnya. Murid Tuhan yang dewasa pastilah berkata-kata sekualitas kata-kata Tuhannya.

Ilustrasi
Di senja yang teramat dingin, konon ada seorang raja dengan keretanya pulang ke istana dari suatu perjalanan yang penting. Setibanya di gerbang istana raja itu keheranan sebab tidak mendapat sambutan hangat dari sang penjaga pintu gerbang. Biasanya petugas pintu gerbang  melakukan sebuah gerakan penghormatan dengan tombak di tangan sambil memperdengarkan suara lantangnya : ”Hormat kepada paduka Raja!” Tapi saat itu dengan tubuh yang bersandar pada dinding gerbang agaknya sang penjaga sedang tertidur, maka dengan nada marah baginda raja memerintahkan panglimanya untuk memeriksa petugas yang melalaikan tugas itu. Setelah diamati ternyata penjaga gerbang itu sudah tak bernyawa dengan tubuh yang kaku. Dalam ketaatannya ia bertahan terus melawan udara dingin sampai hembusan nafas yang terakhir. Ia mati dalam tugas, ia rela mengorbankan nyawa bagi rajanya. Mengetahui hal itu maka baginda raja bergegas turun dari kereta, kemudian ia menyuruh panglimanya untuk melepas topi sang penjaga dan diganti mahkota milik raja, sambil katanya: ”Dia patut mendapat penghormatan ini karena ketaatan dan pengorbanannya!”  Walau hanya sejenak, namun tak pernah ada rakyat  sedemikian rendah derajatnya beroleh penghormatan yang sedemikian tingginya!

Tuhan Raja sorgawi yang mulia juga sering menunjukkan penghargaan-Nya kepada orang-orang sederhana, seperti dalam Yesaya 50 tadi. Di sini tampil satu pribadi yang sangat menarik sebab walaupun hidupnya sederhana bahkan menderita, namun juga kuat, tabah, taat, rela berkorban dan memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Tuhan!

Refleksi
Pelayanan Yesus Kristus di sepanjang hidupNya ditandai dengan tiga hal: Pertama ,Dengan lidah-Nya menyampaikan firman Tuhan dan berbagai pelajaran, kotbah, teguran, penghiburan serta memberi dorongan kepada yang letih lesu dan berputus asa. Kedua, Dengan telinga-Nya yang tajam dan terlatih selalu siap mendengar keluhan, permohonan, penuh pemahaman serta kepedulian kepada semua lapisan masyarakat. Ketiga, Dalam sikap taat kepada Bapa, dengan konsistensi yang tinggi, rela mengorbankan jiwa raga serta kemuliaanNya demi kasihNya kepada umat manusia yang berdosa.

Menjadi hamba Allah berarti bersedia memberi diri secara total untuk diperbarui senantiasa oleh Allah, dan bersedia menghadapi tantangan. Kesediaan memberi diri total dan sedia menghadapi tantangan adalah kunci keabsahan pelayanan seorang hamba sebagai "mulut" Allah. Hamba Allah tidak berhak menyuarakan suara lain, selain suara Allah sendiri. Bila tidak, ia bukan lagi hamba Allah sejati, tetapi hamba palsu.

Syair yang diungkapkan Yesaya ini mengingatkan kita kepada Yesus Kristus sebagai Hamba Sejati. Apakah rahasianya sehingga Dia dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu? Pertama, Dia memelihara hubungan dengan Bapa di sorga. Dia telah didisiplin untuk mengutamakan Allah dan mendengarkan firman Allah tiap pagi. Maka kata-kata yang diucapkan-Nya pada orang banyak bukanlah kata-kata-Nya sendiri, tetapi kata-kata dari lidah seorang murid. Kedua, Dia telah menerima semua proses pembentukan yang Allah ijinkan. Proses pembentukan itu berat, tetapi melaluinya Dia terbentuk tegar (6,7-9).

Hamba Allah yang sejati taat kepada firman dan yang tabah menanggung derita itu memiliki wewenang illahi. Dia kini memanggil orang yang merindukan kebebasan dan mendambakan kehidupan yang berbahagia.

Pelayanan Tuhan Yesus sebagai hamba yang sejati berdampak kepada transformasi hidup orang yang dilayani-Nya. kita adalah buah-buah pelayanan-Nya. Kita sekarang adalah hamba-hamba Allah yang dipanggil untuk menyaksikan karya Kristus itu kepada semua orang. Mari kita meneladani Tuhan Yesus dengan taat kepada Allah dan tidak gentar menghadapi penolakan serta tekanan dunia ini. Allah akan memelihara dan membela kita. Amin.

Postingan Terkait



0 komentar: