“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Minggu, 24 Maret 2013

Filipi 2:5-11 (Khotbah Minggu, 24 Maret 2013)

Ketaatan Mendatangkan Kemuliaan

Pengantar
Kala itu, ada gejolak dalam kehidupan Gereja Filipi. Dari luar, jemaat menghadapi penganiayaan dari orang-orang yang tidak menyukai keberadaan mereka. Dari dalam, ada beberapa orang anggota jemaat yang saling berseteru satu sama lain (Flp. 4:2). Belum lagi guru-guru palsu yang membingungkan Gereja dengan ajaran-ajarannya yang menyesatkan (Flp. 3:2). Gejolak kehidupan gereja seperti itu bisa saja menggoda jemaat untuk tidak lagi taat iman. Oleh sebab itu menjadi perlu, jemaat ini mengingat kembali “ketaatan yang berkorban”, yang telah ditunjukkan oleh Kristus, agar mereka dapat berdamai dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

Nasihat yang Paulus berikan untuk Gereja Filipi ini bukanlah nasihat yang gampangan, karena suratnya ini ia tulis dari dalam rumah tahanan di Roma pada masa tahanannya karena memberitakan Injil Kristus. Paulus menyemangati jemaat dengan teladannya juga. Paulus telah menghidupi juga “ketaatan yang berkorban” itu.

Penjelasan
Rasul Paulus menganjurkan kepada jemaat Filipi supaya mereka mempunyai perasaan dan pikiran Kristus. Apa perasaan dan pikiran yang terdapat dalam Kristus?

Jawabannya ada di ayat 8; ”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. 

Paulus menggambarkan perasaan dan pikiran yang terdapat dalam Kristus itu pertama; “Ia telah merendahkan diri-Nya”. Paulus mengatakan sorga dan tahta yang penuh sukacita, tidaklah menjadi pilihan bagi Yesus. Walaupun Dia sebenarnya tidak harus meninggalkan tahtanya, namun karena kasihNya maka Dia memilih meninggalkan sorga dan mengambil rupa seorang manusia hina agar dia bisa memasuki ruang kemanusiaan yang kotor dan penuh dosa. Kita ingat peristiwa Betlehem, bahwa Dia lahir di kandang domba. jadi dia mengambil rupa seorang hamba yang hina, bahkan lebih hina dari kita-kita ini. Seorang hamba tak lebih dari pesuruh atau pelayan  bahkan lebih tepat dikatakan sebagai seorang budak. Budak yang harganya persis 30 keping uang perak. Harga yang diterima Yudas saat dia mencium Yesus untuk menyerahkannya ke tangan musuh-musuhnya.

Gambaran yang kedua; “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Ketaaatan Yesus bukan hanya ketika Ia mati, tetapi berlangsung dari awal sampai akhir (terus menerus). Mulai dari inkarnasi (Allah Sang Pencipta TURUN DERAJAT menjadi ciptaan (manusia). Sebagai manusia, Ia TURUN LAGI menjadi hamba (budak). Seorang budak tidak punya hak untuk hidupnya. Budak bisa diperlakukan seenaknya oleh tuan yang sudah membelinya, bahkan kalau tuannya ingin membunuhnya pun bisa. Sebuah profil yang sungguh HINA. Dari budak, Yesus TURUN LAGI dengan mati. Matinya pun TURUN LAGI: Ia mati di kayu salib, sebuah tempat penghukuman yang terkutuk dan keji memalukan, karena ditujukan untuk penjahat besar. Mengapa Yesus Mau melakukan itu semua?  karena Yesus mentaati perintah Allah.  Mengapa Yesus mau taat? Karena Dia mengasihi Bapa.

Ketaatan Yesus bukanlah ketaatan yang mudah dan otomatis dilakukan-Nya, tetapi melalui perjuangan yang berat. Artinya ketaatan Yesus merupakan sebuah ketaatan dimana pada setiap langkahnya, Ia bisa saja berhenti mentaati Bapa-Nya (menyerah). Ketika Ia ternyata hanya dilahirkan di kandang binatang, dalam kekecewaanya Ia bisa saja membatalkan misi-Nya dan menolak untuk meneruskan ketaatannya. Ketika pada masa kanak-kanak Ia dikejar Herodes hendak dibunuh, Ia bisa saja mengurungkan niat-Nya memenuhi misi Bapa-Nya.  Ketika Ia memulai pelayanan-Nya di nazaret dan orang-orang menolak-Nya bahkan ingin melemparkan-Nya ke jurang, Ia bisa saja membatalkan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya saat itu.  Demikian juga saat Ia bergumul di getsemani. Karena beratnya pergumulan Yesus antara ketaatan dan pilihan-Nya, maka keringat Yesus menjadi titik-titik darah. Artinya  saat itu, Yesus benar-benar gentar menghadapi kematian dan cara kematian-Nya. Yesus mengetahui dengan sangat detail proses penangkapan, penderitaan, penghinaan, dan kesakitan yang akan segera dihadapi-Nya… Ia TAHU bahwa Ia akan mati tergantung di atas kayu salib.

Padahal tahukah Anda bahwa sebetulnya salib adalah alat penghukuman yang sangat mengerikan?  Salib pada masa purba, berbicara mengenai sebuah alat eksekusi yang hina dan keji, karena sebelumnya terhukum yang memikul salib harus diarak keliling kota untuk dipermalukan, kemudian setelah itu di atas salib, sang terhukum digantung untuk merasakan siksaan selama berhari-hari sampai mengalami kematian.Tidak ada kematian yang lebih mengerikan daripada kematian melalui penyaliban. “Terkutuklah orang yang digantung di atas kayu salib”.

Lalu mengapa salib dipilih sebagai simbol kekristenan? Mengapa bukan palungan, lidah api, mahkota duri, atau burung merpati?  Jawabannya karena salib adalah inti dari kehidupan Tuhan Yesus

Sebetulnya, dengan kuasa yang ada padaNya, Yesus bisa saja membatalkan ketaatan-Nya. Tetapi, ternyata Kristus lebih memilih untuk  TETAP TAAT sampai rencana Allah sepenuhnya terjadi atas-Nya. Matius 26:51-54 jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak mau membatalkan ketaatanNya kepada Allah:

51. Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.
52.  Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
53.  Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?
54. Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"

Dan yang menarik! Kita baca sesuatu yang sangat LUAR BIASA di Fil. 2:9-11. Dikatakan “Itulah Sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia….” Ayat-ayat ini menceritakan bagaimana Yesus ditinggikan oleh Bapa. Tapi tahukah Anda bahwa Yesus ditinggikan oleh Bapa di sorga, bukan tanpa syarat. Yesus diberikan nama di atas segala nama, bukan tanpa syarat… Ayat 9-11 ini merupakan sebuah akibat dari ayat-ayat sebelumnya.  Apa yang bisa kita pelajari dari ayat-ayat ini? Ketika Yesus memilih jalan KETAATAN kepada kehendak Bapa, ketika Dia mau merendahkan diri Turun ke bawah, maka pada saat yang sama sebetulnya Dia sedang DIANGKAT NAIK oleh Bapa sampai ke atas. Prinsipnya: Ketaatan mendatangkan kemuliaan. Salib mendatangkan mahkota.

Refleksi
Yesus Kristus melewati jalan pahit, mengganti rupa dan kemewahannya, meninggalkan jubah dan mahkota kekuasaannya, hanya demi kasihNya kepada kita. Di jaman ini banyak orang berambisi bahkan mau menjual segalanya demi tahta atau kekuasaan, demi mempertahankan kekuasaan pun orang rela berkonspirasi dengan pasukan pembunuh, bahkan tidak perduli berapa ratus orang meregang nyawa. Kekuasaan sekarang ini banyak diraih dengan tidak memiliki etika, apalagi berbicara masalah kasih.

Kasih memerlukan pengorbanan dan kerendahan hati, Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah contoh yang terutama. Berkorban berarti tidak mementingkan diri sendiri tapi mampu juga melihat kebutuhan orang lain. Sebab orang yang tidak mau berkorban, melihat keperluan orang lain pasti akan mendapati dirinya sendirian, yang dia jumpai dan pikirkan hanya dirinya sendiri, oleh karena itu biasanya orang yang hanya memikirkan diri sendiri selalu merasa kesepian. Tetapi bagi orang yang banyak berkorban akan mendapati dirinya dengan kehidupan yang berkualitas dengan hubungan yang baik dengan orang lain maupun lingkungannya. Oleh karena itu dalam kita merenungkan kasih dan pengorbanan Yesus dalam minggu passion ini kita juga bisa berbuat didalam kasih tidak hanya untuk keluarga, jemaat kita tetapi pada seluruh ciptaaanNya.

Yesus mengorbankan totalitas hidupnya di dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Bapa. Walaupun itu harus melalui jalan duri, walaupun itu penuh penderitaan namun Dia tetap setia  hingga tersalib dan mati. Tetapi apakah kita juga setia terhadap Dia yang telah menebus kita? sering sekali justru pemberontakanlah yang kita lakukan, yang mendukakan bapa di sorga.

Banyak orang Kristen memakai sistem meniru hewan mimikri, menjadi ‘manusia bunglon’. asal selamat biarlah iman tergadai. Maka tidak ada bedanya lagi antara kita dengan orang yang tidak Kristen. ini perlu menjadi koreksi kepada kita semua. Atau seperti dikatakan Yusuf Roni, kita sering meniru Kapal Selam bukan meniru Kristus. Kapal selam, hanya sesekali muncul di permukaan, 90% hidupnya berada di lautan yang dalam. Banyak orang Kristen hanya sesekali muncul di kehidupan ini namun 90% hidupnya melanglang buana di dunia gelap, entah apa yang dilakukan kita tidak tahu.

Setelah ribuan tahun gereja berdiri apakah semakin perduli atau tidak, semakin banyak berbuah atau tidak. Marilah kita berupaya agar kehadiran gereja bisa menjadi garam dan terang, bukan pula menjadi penghianat-penghianat Firman, tetapi semakin setia menuruti kehendak Bapa di Sorga.

Apakah ada upah ketaatan dan kesetiaan kita? Yesus Kristus mendapatkan penghormatan besar duduk disebelah kanan Allah Bapa dan semua lidah mengaku Ia adalah Tuhan. Tentu upah kita juga akan besar di sorga. Walaupun kita belum bisa seperti Kristus tetapi kita perlu berdoa agar kelak wajah kesegambaran kita semakin sempurna.   Amin.

(dari berbagai sumber)

Postingan Terkait



0 komentar: