“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Rabu, 20 April 2016

Kisah Para Rasul 11:1-18 (Khotbah Minggu, 24 April 2016)

Pertobatan Yang Memimpin Kepada Hidup

Pendahuluan.
Petrus adalah seorang Yahudi  dan berprofesi sebagai Rohaniawan sedangkan Kornelius adalah seorang Romawi sekaligus bekerja sebagai tentara. Secara politik ke dua orang ini berseberangan bahkan bermusuhan yang satu lemah dan yang satu kuat karena bersenjata. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka; keduanya mendapat pengilhaman dari Roh Kudus. Petrus mendapat penglihatan aneh untuk ukuran ke-Yahudiannya. Sementara Kornelius mendapat pesan untuk mengundang Petrus ke rumahnya (ay. 9). Mereka sangat berbeda, tetapi ada sesuatu yang lebih besar dari mereka yang mempertemukan keduanya untuk saling meneguhkan. Kisah Kornelius membuat Petrus mengerti maksud dan Visi yang ia lihat.

Tuntutan terhadap Petrus
Berita kunjungan Rasul Petrus ke rumah Kornelius tersebar sampai ke Yerusalem. Cerita yang berkonotasi negatif dan menuding tindakan Petrus tersebut. Patut diperhatikan bahwa kecaman ini bukan datang dari kaum Yahudi ortodoks yang memusuhi Yesus dan murid-muridNya, melainkan dari kalangan orang percaya Yahudi sendiri, termasuk para Rasul rekan sekerja Petrus.

Bahwa orang-orang Yahudi yang percaya menentang hal itu (ay. 2-3). Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat, yaitu orang-orang Yahudi yang telah dipertobatkan dan masih memelihara pentingnya sunat, berselisih pendapat dengan dia. Mereka mengecam perbuatan Petrus yang telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka sebagai suatu kejahatan. Mereka beranggapan bahwa dengan berbuat demikian berarti Petrus telah menodai, jika bukan mengkhianati, kehormatan akan jabatan kerasulannya, sehingga harus dibawa ke hadapan jemaat. Begitu jauh mereka dari memandang Petrus sebagai orang yang tidak dapat berbuat salah, atau sebagai pemimpin tertinggi dari jemaat, di mana semua harus memberikan pertanggungjawaban kepada dia sementara ia tidak perlu bertanggungjawab kepada siapa pun.

Petrus dianggap telah menyalahi aturan tersebut, ketika ia pergi, hidup, dan tinggal, serta melakukan pelayanan di antara kelompok tak bersunat (ay. 2). Sebagian jemaat Yahudi, yang adalah kelompok bersunat mempersalahkan Petrus atas perbuatannya itu karena telah melanggar aturan sosial di kalangan jemaat perdana. Petrus yang ingin mempertanggungjawabkan pelayanannya kepada mereka menyatakan bahwa pelayanan itu terjadi bukan karena keinginannya, melainkan terjadi karena pekerjaan Roh Kudus (ayat 5-7). Penceritaan ulang Petrus tentang apa yang terjadi menegaskan peran Roh Kudus dalam mengubah pandangan yang sudah terkotak-kotak dan kaku tersebut (ayat 8-10). Juga mengubah hati mereka yang terbelenggu tradisi menjadi hati yang hangat dan penuh kasih melihat petobat-petobat baru, tak peduli apa latar belakang mereka (ay. 18). Petrus tak sendirian karena ada rekan-rekan bersunat yang menjadi saksi pekerjaan Roh Kudus yang membaptis orang-orang tidak bersunat itu (ay. 12).
Pekerjaan memulihkan relasi antar manusia adalah pekerjaan yang tidak mudah, kalau tidak dapat dikatakan mustahil. Namun Kisah Para Rasul mengajar kita bahwa pemulihan itu adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam gereja dan dunia ini.  Pekerjaan itu dimulai dengan pemulihan relasi manusia dengan Tuhan lewat pertobatan dan lahir baru. Kemudian dilanjutkan dengan penerimaan ke dalam lingkup persaudaraan seiman di dalam gereja.

Sebagaimana cerita bernada kecaman dan negatif, yang mereka dengar adalah Petrus masuk dan makan di rumah orang tidak bersunat, hal ini terjadi karena bagi bangsa Yahudi, keselamatan adalah milik mereka, karena merekalah Umat pilihan Allah, Umat dimana melalui mereka, Allah mengadakan perjanjian dan penggenapan dalam Yesus Kristus - sekalipun mereka telah mengenal Kristus dan bahkan mengalami kehadiran Roh Kudus atas mereka, pengertian ini tertanam erat sebagai bagian dari kehidupan sosial budaya dan keagamaan mereka sebagai suku bangsa Yahudi.

Penjelasan Petrus
Penjelasan Petrus atas tindakannya dapat ditinjau dari beberapa hal:
1.     Tindakan Petrus didasarkan atas kesaksian pribadinya atas tuntunan Roh Tuhan.
2.     Tuntunan itu terjadi ketika Petrus sedang berdoa.
3.     Penglihatan atas tuntunan Ilahi itu terjadi sampai 3 (tiga) kali.
4.     Perginya Petrus ke Kaisarea pun atas perintah Roh Tuhan.
5.     Bahwa Roh Tuhanpun bekerja atas Kornelius, orang asing itu - sehingga ia menyuruh orang menjemput Petrus.

Hal-hal inilah yang membuat Petrus akhirnya mengambil keputusan untuk datang ke Kaisarea ke tempat Kornelius dan memberitakan Injil serta membaptis mereka. Keputusan Petrus diambil berdasarkan doa dan tuntunan Roh Tuhan, sebaliknya Kornelius pun dituntun oleh Tuhan untuk secara aktif mencari Petrus untuk mendapatkan keselamatan itu.

Kejadian ini sepenuhnya atas pekerjaan Tuhan, yang dikerjakan oleh Petrus dan Kornelius dengan percaya dan taat. Petrus datang mengatasi keraguannya, dan Kornelius menerima Petrus, dan percaya penuh atas segala yang Petrus ucapkan - semuanya dengan tuntunan Roh Tuhan belaka, dan seketika itupun Roh Kudus turun atas mereka.

Petrus mengakhiri penjelasannya dengan kalimat yang sangat indah di ayat 17; “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"

Penerimaan jemaat di Yerusalem
Satu ayat yang begitu padat dan indah, mewakili keadaan para jemaat di Yerusalem setelah mendengar penjelasan Rasul Petrus; Kis. 11:18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."
Ayat ini sangat penting, karena memperlihatkan bahwa halangan utama dan ketidak-mengertian bangsa Yahudi atas keselamatan dalam Kristus, baik ortodoks, maupun yang sudah menjadi pengikut Kristus, adalah dalam diri mereka sendiri yang mempunyai pengertian yang tidak tepat atas segala perintah Tuhan yang mereka taati dalam Hukum Musa. Rasul Paulus di kemudian hari menulis di Roma 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Renungan
Allah tidak membeda-bedakan orang. Perhatian dan cinta kasih-Nya tidak bisa dibatasi hanya di wilayah tertentu. Rahmat dan anugrah-Nya tidak dicurahkan hanya kepada tokoh tertentu, suku tertentu, gender tertentu, atau budaya tertentu saja. Oleh sebab itu Allah tidak boleh dibatasi karya-Nya di kawasan orang Yahudi. Dengan perkataan lain Allah tidak membangun tembok, tetapi Allah justru membangun jembatan.

Di dalam diri Kristus, Allah meninggalkan surga dan masuk ke dalam dunia, bahkan menjadi manusia dan berkomunikasi dengan manusia. Allah juga solider dengan manusia sampai kepada penderitaan manusia yang paling dalam yaitu kematian. Peristiwa salib bisa dipahami oleh orang yang sangat sederhana maupun orang yang paling jenius.

Jalan kehidupan Yesus mengatasi jalan-jalan politik, jalan ekonomi, jalan perdamaian dst., yang sedang dirintis oleh manusia. Kesetiaan yang dibangun umat-Nya mengatasi kesetiaan terhadap bangsa, mengatasi fanatisme suku atau budaya.

Dalam dunia yang penuh dengan pertentangan dan krisis, dan bahkan ketika primordialisme tumbuh subur, Kekristenan harus merangkul dan membangun jembatan-jembatan komunikasi. Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik yang harus disampaikan dengan berpedoman kepada Yesus. Fanatisme atau ekslusifisme bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Memeluk Kristus erat-erat dan merasa diri selamat sementara melihat orang lain dengan penuh kecurigaan sangat bertentangan dengan semangat Yesus atau jiwa inkarnasi.

Bukan saatnya menghindari orang lain tetapi inilah saatnya merangkul orang lain dalam semangat persaudaraan dan semangat cinta kasih. Sebab Yesus bukan milik kita saja, tetapi Yesus adalah milik semua orang.

Pdt .  Walsen Napitu


Postingan Terkait



3 komentar:

Unknown mengatakan... Balas

Renungqn yg sangat memberkati. Yesus bagi dunia yg mau percaya. Trims

Unknown mengatakan... Balas

Renungqn yg sangat memberkati. Yesus bagi dunia yg mau percaya. Trims

Julius Masandan mengatakan... Balas

Renungan yang memberikan pemahaman tentang kejadian yang berlaku antara kornelius dan Petrus dari sudut keselamatan, budaya dan sosial orang yahudi.