“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Sabtu, 18 Februari 2012

2 Raja-Raja 2:1-12 (Khotbah Epistel)


Anugerah Pelayanan Berlanjut Dari Elia Ke Elisa

Pendahuluan
Elia adalah guru, pembimbing, mentor Elisa. Selama bertahun-tahun Elisa mengikuti Elia, melihat dan belajar dari dia. Dia melihat Elia melakukan mukjizat, menyelesaikan debat, membawa rekonsiliasi. Elia telah menghabiskan waktunya bertahun-tahun melatih dan mempersiapkan Elisa sebagai pengantinya sampai waktu ketika Elisa akan mengambil jubah kepemimpinannya.

Elia adalah nabi yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Banyak rencana dan karya Tuhan terjadi melalui dirinya, seperti bernubuat supaya hujan turun dan tidak turun (1 Raj 17:1, 18:41-46), menegur penguasa tinggi, raja Ahab (1 Raj 18), mengalahkan nabi-nabi Baal di gunung Karmel (1 Raj 18:20-40) dan lain sebagainya.

Elisa adalah tipe orang yang setia dan patuh, Ia setia kepada seniornya,  pembimbingnya, mentornya, gurunya. Dalam hal ini, Elia merasa senang, karena dia merasa tidak salah pilih (1 Raj 19:19-21). Kesetiaan Elisa tampak dalam peristiwa perjalanannya dengan Elia, ada 3 kali Elia hendak meninggalkan Elisa, tetapi Elisa tetap bersikeras harus tetap mengikuti Elia, hingga Elia pergi berangkat ke sorga, sesuai dengan perintah Tuhan Allah.

Penjelasan
Kabar keberangkatan Elia ke surga dalam angin badai tampaknya sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan komunitas kenabian. Rupanya kenaikan Elia ke surga ini sudah diberitahukan lebih dulu, baik kepada Elia, Elisa maupun rombongan nabi di Betel dan Yerikho (ay 1,3,5,10).

Elia berusaha untuk meninggalkan Elisa (ay 2,4,6). Ini dimaksudkan untuk betul-betul mendapatkan kesendirian, atau untuk mengetest kesetiaan Elisa. Tiga kali Elia berusaha melakukan hal ini, dan tiga kali pula Elisa menolak untuk ditinggalkan (ay 2,4,6). Dalam keadaan normal seorang pelayan harus menuruti majikannya, tetapi dalam perikop ini, Elisa, yang tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir ia bisa bersama tuannya (ay 3b,5b), menolak untuk ditinggalkan. Jelas Elisa lebih memilih untuk tetap bersama Elia. Ia terus menempel ke Elia saat mereka melakukan perjalanan, mungkin terlihat menyedihkan tetapi hal ini mengungkapkan keintiman hubungan mereka, yang melampaui hubungan ayah-anak (ay 12).

Di dua lokasi, rombongan nabi (para murid nabi) bertanya pada Elisa tentang keberangkatan Elia (ay 3, 5). Jawaban Elisa atas pertanyaan ini kasar, mencerminkan ketegangan emosionalnya akan suatu perpisahan. 

Akhirnya, mereka mencapai perjalanan akhir. Di sungai Yordan, sekarang saatnya bagi Elia untuk menyeberang. Sekali lagi Elia mencoba untuk mencegah Elisa mengkutinya, tetapi lagi-lagi, Elisa bersikeras bahwa ia akan tetap mengikuti Elia.  Di seberang Sungai Yordan, pada saat-saat terakhir keberadaan Elia di bumi. Elia berkata kepada anak didiknya yang masih muda itu, "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu."

Banyak penafsir menganggap bahwa Elisa meminta kuasa dua kali lipat dari apa yang dimiliki oleh Elia, dan bahkan mereka lalu membuktikan bahwa Elisa melakukan mujijat dua kali lebih banyak dari Elia. Tetapi ini merupakan penafsiran yang salah. Alasannya, Elisa tidak pernah menjadi dua kali lebih hebat dari Elia, bahkan Elisa tidak pernah bisa menyamai Elia. Bahwa Elia tetap lebih besar dari Elisa, juga terlihat dari fakta bahwa yang muncul bersama Yesus pada waktu pemuliaan di gunung adalah Musa dan Elia, bukan Elisa (Mrk 9: 4).

Lalu apa artinya permintaan ini? Ini dihubungkan dengan Ulangan 21:17, yang mengatakan bahwa anak sulung diberi warisan dua bagian, atau dua kali lipat dari anak yang lain. Jadi, Elisa rupanya menganggap bahwa Elia mempunyai banyak anak rohani (ini mencakup nabi-nabi di Betel dan Yerikho), dan ia meminta warisan sebagai anak sulung. suatu ‘bagian dobel’ dari roh Elia, bukan suatu kuasa yang lebih besar dari yang dimiliki Elia, tetapi bagian yang diberikan kepada anak tertua yang menggantikan posisi ayahnya.

Permintaan ini tidak menunjukkan ketamakan, karena tamak atau tidaknya tergantung dari motivasi Elisa. Kalau ia meminta hal itu demi kemuliaan Tuhan, maka tentu itu bukan ketamakan. Bahkan kalau seseorang meminta ‘hal duniawi’ seperti mobil, asalkan motivasinya untuk kemuliaan Tuhan, maka itu bukan suatu ketamakan.

Elia tahu bahwa bukanlah haknya untuk memberikan apa yang Elisa minta. Jadi dia berkata, "Yang kau minta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi."  Dengan kata lain, Elisa meminta sesuatu yang Elia tidak bisa berikan sebab hal itu adalah pemberian Allah.  Elisa meminta semangat yang ada dalam diri Elia, yang membuatnya menjadi nabi terbaik dalam sejarah Yahudi, yaitu semangat yang berasal dari Allah. Kuasa dari Allah yang memberinya kemampuan untuk melakukan mukjizat. Kuasa dari Allah yang memberinya suara untuk berbicara tentang kebenaran kepada penguasa dunia. Kuasa dari Allah yang memberi Elia kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan. Kuasa dari Allahlah yang bekerja melalui Elia, yang membawa gairah dan kasih sayang yang melimpah dalam pelayanannya.

Elisa meminta semangat, bukan sebagai hadiah atau lencana kehormatan, tetapi karena ia membutuhkannya untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dia membutuhkan itu dalam rangka untuk menjadi pemimpin dalam komunitasnya. Dia membutuhkannya untuk membawa kesembuhan dan kasih sayang bagi orang di sekitarnya. Ia membutuhkan semangat pelayanan agar ia bisa memenuhi misinya.

Melalui perikop ini jelas kelihatan  bahwa Elisa adalah figur yang sangat cocok dan tepat menjadi pengganti Elia, memimpin bangsa Israel. Elisa setia, serius, sungguh-sungguh,  dan gigih berjuang. Kesungguhan Elisa menjadi pelayan itu terbukti sebab ia memenuhi syarat untuk memiliki kuasa atau wibawa Elia melalui ‘dapat melihat Elia berangkat ke sorga’ dengan kereta berapi dan kuda berapi. Ini menjadi suatu legitimasi dari Allah sendiri, bahwa ia benar-benar disetujui dan dipilih Allah sebagai pengganti Elia.

Selanjutnya Elisa memiliki kompetensi seperti Elia, sanggup melakukan apa yang telah dilakukan oleh Elia yakni melakukan tanda mujijat (ay 14). Legimitasi berikutnya adalah dari teman-temannya nabi yang lain (manusia), dimana teman-temanya itu melihat semua kejadian itu dengan jelas dari jarak tertentu (ay 15).

Refleksi
Kisah Elia dan Elisa dalam perikop ini berbicara tentang bimbingan dan transisi kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses transisi, suksesi dan kelangsungan tugas kenabian sangat menentukan sukses tidaknya sebuah pelayanan. Dari sini kita belajar bahwa sebaiknya hubungan senior dengan junior adalah hubungan yang saling membangun, bukan hubungan yang saling bersaing dan sikut-menyikut. Terlebih dalam hal suksesi kepemimpinan (periodeisasi) di tengah-tengah jemaat maupun organisasi lainnya.

Kita juga belajar dari Elisa tentang bagaimana ia belajar dan mengikuti orang yang lebih berpengetahuan dan lebih bijaksana. Permintaan Elisa untuk "dua bagian roh" adalah tentang warisan rohani yaitu semangat pelayanan bukan kekuasaan. Dia ingin melanjutkan pelayanan Elia dan bukan memulai model pelayanan yang ia ciptakan sendiri. Ini merupakan sebuah pelayanan yang dilakukan dalam kerendahan hati.

Dalam hidup kita ini, kita memiliki peran  sesuai dengan talenta dan pekerjaan kita masing-masing. Baiklah kita tetap setia memberikan yang terbaik bagi Allah melalui talenta dan pekerjaan kita tersebut. Elisa setelah terpilih untuk menggantikan posisi Elia maka ia memberikan dirinya sepenuhnya untuk melayani dengan tulus, sepenuh hati dan penuh kesetiaan.

Percayalah, jika Allah memanggil kita untuk suatu tugas pelayanan, Allah akan memberikan semangat dan kasih karunia kepada kita untuk melakukannya. Ingatkan diri Anda bahwa semua pelayanan yang Anda lakukan bisa menjadi persembahan yang harum bagi Allah. 

Pdt. Anthony L Tobing

Postingan Terkait



0 komentar: