“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Jumat, 18 Mei 2012

Mazmur 1:1-6 (Khotbah Minggu, 20 Mei 2012)


Berbahagialah Orang Yang Selalu Merenungkan Firman Tuhan

Pendahuluan
Di zamannya, Pemazmur menghadapi anekaragam sikap, sifat dan prinsip hidup manusia dan semuanya saling mempengaruhi. Sikap, sifat dan prinsip hidup itu dapat digolongkan dalam 2 kelompok besar yaitu; orang benar dan orang fasik. Dalam keadaan seperti itu bukan tidak mungkin seseorang dapat berobah haluan prinsip hidupnya atau terdegradasi pendirian dan ketetapan hatinya.  Maka Pemazmur melalui tulisannya mengingatkan orang-orang benar agar tidak terjerumus dan berobah menjadi orang fasik yang pasti akan menerima penghukuman Allah.

Penjelasan
Ayat 1
Setiap orang pasti ingin hidupnya selalu diberkati oleh Tuhan. Dan setiap orang juga ingin memiliki kehidupan yang berbahagia. Rahasia hidup yang diberkati Tuhan dan hidup yang berbahagia adalah memperhatikan sikap, tingkah laku, dan gaya hidupnya. Tentu saja seturut dengan Firman Tuhan.

“Orang fasik, orang berdosa, dan pencemooh” ketiganya mewakili orang duniawi yang hidupnya tidak tinggal dalam Firman Tuhan. Selama kita hidup, kita akan bertemu dengan ketiga macam orang ini. Dalam ayat ini, orang yang ingin hidupnya diberkati dan berbahagia, harus menolak ajakan, bujukan, dan tidak mengikuti langkah orang-orang fasik, berdosa, dan pencemooh.

Ayat 2
Ini adalah sikap hidup dari orang benar. Setiap orang yang ingin menerima berkat dari Tuhan dan memiliki kehidupan berbahagia, mereka akan senantiasa merenungkan Firman Tuhan, sehingga membentuk dan mengisi pikiran, perkataan dan perbuatannya (Kis.17:11).

Ayat 3
“Air” sering kali melambangkan Roh Allah dimana Allah adalah Sumber kehidupan (Yoh.7:38-39). Orang benar akan hidup dan berbuah sebab ia ditaman di dalam sumber kehidupan (Allah). Jalan hidupnya akan “Berhasil”, artinya; menjadi lebih baik, mengalami kemajuan, beruntung, makmur dan sukses. Hal ini bukan berarti orang itu tidak akan mengalami kegagalan ataupun kekurangan. Kita harus mengakui ajaran Alkitab bahwa Allah mungkin mengijinkan anak-anakNya mengalami kekurangan. Kemungkinan Allah mengijinkannya karena :
1. Agar didorong untuk lebih percaya kepada-Nya dan mengembangkan iman, ketabahan rohani dan pelayanan kita (Rom 8:35-39; 2Kor 4:7-12; 6:4-10; 12:7-10;1Pet 1:6-7).
2. Kita mungkin mengalami kesusahan yang amat berat ketika kesaksian kita mengenai Kristus dan pelayanan kita kepada-Nya mendatangkan penganiayaan dan penindasan dari dunia. ( Luk 6:20-23; Ibr 10:32-34; 1Pet 2:19-21; Wahy 2:9-10).
3. Kita mungkin menderita kemiskinan disebabkan oleh bencana nasional atau alam seperti peperangan, bencana kelaparan, bencana kekeringan, atau keadaan sosio-ekonomi yang parah (Kis 11:28-30; 2Kor 8:2,12-14).
Namun ada janji bagi anak-anakNya seperti dalam Maz.34:20 dan Ibr.13:5b.

Ayat 4-6
Hal ini melukiskan tentang orang berdosa yang tidak mau bertobat dengan tiga gambaran yang mengerikan:
1. Mereka seperti "sekam" yang ditiup angin; dihempaskan. 
2. Mereka akan dihukum Allah pada hari penghakiman. 
3. Mereka akan binasa dalam kekekalan.

Refleksi
Pernahkah Anda mengalami suatu peristiwa di mana ada satu tawaran untuk berbuat dosa dari atasan saat bekerja dan Anda menolaknya? Karena penolakan Anda, atasan menjadi marah karena tidak menuruti perintahnya dan mengucilkan Anda. Sangat tidak menyenangkan bukan? Kita sudah berusaha hidup menuruti jalan hidup yang benar namun justru hal menyakitkan menjadi upah kita. Jangan sedih kalau Anda harus mengalami hal yang menyakitkan karena satu kebenaran yang dilakukan untuk Tuhan, karena dengan melakukan kebenaran anda memiliki integritas dan Tuhan sangat menghargai anda.

Orang yang sudah merenungkan firman Tuhan dan melakukannya tidak langsung berbuah. Dia harus menunggu waktunya untuk berbuah. Meski begitu dia menantikan dengan sabar. Dia menyadari bahwa ada proses yang harus dilalui hingga tiba waktunya berbuah. Dia harus berakar, bertumbuh dan kadangkala harus dipangkas. Namun dia melaluinya dengan ketekunan.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4)

Mungkin kita akan berkata bahwa ada orang yang kita kenal melakukan kefasikan namun tetap berkelimpahan (harta). Tidak jarang keadaan mereka mendatangkan rasa cemburu bagi kita. Melalui mazmur ini, kita diajak untuk melihat sisi lain dari kebahagiaan itu. Bahwa hidup yang berkelimpahan (materi) bukanlah satu-satunya yang dijanjikan Tuhan. Ada hal lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu ketahanan terhadap ujian (ay. 4-5). Sebab apa yang dimiliki seseorang, baik itu harta atau pengakuan telah merasakan bahagia, pada akhirnya akan diperhadapkan dengan penghakiman (ujian). Ada harga yang harus dibayar pada masa sekarang oleh mereka yang berbuat benar dan mereka yang berbuat jahat dan ada harga yang harus dibayar di masa depan juga. Siapa yang bertahan dalam ujian itu, merekalah yang sungguh-sungguh merasakan kebahagiaan yang berkelimpahan (Why. 21:7)

Mungkin Anda tidak kesulitan mendengar Firman Tuhan tetapi apakah Anda sudah melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Hidup benar mendatangkan kebahagiaan dan keberhasilan. Amsal 4:18, “Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar”. Mungkin terang anda masih kecil sekarang tetapi teruslah berjalan sebagai orang benar, maka terangmu akan bertambah besar bahkan sampai sempurna. Mulailah melakukan kehendak Tuhan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu sampai Anda sanggup melakukan pekerjaan besar. Saya yakin semua jemaat ini adalah orang benar, tetapi kalau ada yang belum, mulailah untuk hidup benar sehingga kehidupan Anda bahagia dan berhasil. Amin.

Postingan Terkait



0 komentar: