“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Selasa, 02 April 2013

Matius 9:35-38 (Khotbah Minggu, 14 April 2013)

Berbelas Kasihan

Pendahuluan
Teks ini merupakan kesimpulan dari pelayanan-pelayanan Yesus yang dijelaskan dalam bagian-bagian sebelumnya. Kata “demikianlah” menunjukkan hal itu.

Pada ayat-ayat sebelumnya diceritakan bagaimana Tuhan Yesus berkeliling ke semua kota dan desa untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan orang-orang yang dijumpainya.

Di banyak kota dan desa yang dimasuki Tuhan Yesus bersama para muridNya, ada begitu banyak orang yang memerlukan 'pelayanan', sementara yang dapat melayani hanya sedikit. Tergerak oleh belas kasihan, Tuhan Yesus menyampaikan kepada para pengikutNya untuk berdoa; meminta kepada Bapa di Sorga agar mengirimkan lebih banyak lagi para pelayan.

Penjelasan
Ayat 35
Kesimpulan pelayanan Yesus ini bisa dijelaskan dalam beberapa jenis kegiatan, antara lain:
a.     Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Maksudnya bukan ke semua kota dan desa di dunia, melainkan semua kota dan desa Israel, atau lebih tepatnya Yehuda. Yesus tidak hanya mengunjungi kota, tetapi juga desa. Artinya Yesus tidak hanya datang bagi mereka yang punya kesejahteraan hidup, kekayaan dan kehormatan, tetapi juga bagi orang yang kecil, miskin dan tidak terhormat. Kedatangan Yesus membawa pengharapan kepada mereka yang ada di kota maupun desa, kaya maupun miskin. Yesus mengunjungi desa dan kota ini, tanpa terkecuali, dengan cara berkeliling. Artinya, Yesus terus bergerak. Dia terus menggerakkan Injil. Dia tidak bertahan di satu tempat sampai seluruhnya bertobat. Dia harus berpindah-pindah untuk mencapai sebanyak mungkin pendengar yang bisa diraihNya. Yesus datang untuk memberitakan Injil tidak pada satu tempat, tetapi pada tempat-tempat lain (Markus 1:38-39).
b.     Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat. Sebagai seorang guru Yahudi (rabbi), Dia mempunyai kebiasaan beribadah pada hari Sabat dan mengajar di rumah ibadat (sinagoge). Memang sinagoge-sinagoge telah menjadi tempat ibadah lokal yang banyak dijumpai bagi daerah-daerah di luar Yerusalem. Walaupun menyadari bahwa rumah-rumah ibadat Yahudi dipenuhi dengan ajaran formalistik dan ritualistik, penuh dengan orang munafik, Yesus tetap memanfaatkan peluang untuk mengajar di situ.
c.     Yesus memberitakan Injil Kerajaan Sorga. Kedatangan Yesus adalah untuk memberitakan Injil (euggelion) atau kabar sukacita. Injil yang diberitakan Yesus adalah Injil Kerajaan Sorga. Injil Kerajaan Sorga adalah Injil tentang Kerajaan Allah dimana Allah memerintah dan kehendakNya terjadi. Sehingga pesan Injil Kerajaan Allah adalah undangan untuk bertobat kepada Allah: “bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Mat. 4:17). Dengan kedatangan Yesus, Kerajaan Sorga telah datang. Kerajaan Sorga menjadi injil (kabar sukacita) karena di dalamnya orang yang bertobat mendapatkan belas kasihan dari Allah.
d.     Yesus melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Pelayanan Yesus tidak hanya untuk memberi kesembuhan rohani, tetapi juga kesembuhan fisik. Pemberitaan kerajaan sorga sering diikuti dengan peristiwa penyembuhan. Ini juga sebabnya banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus, yaitu untuk melihat tanda-tanda atau mujizat yang dikerjakanNya.

Ayat 36
Kesimpulan pelayanan Yesus tidak hanya berkaitan dengan apa yang Yesus lakukan. Teks ini juga menceritakan tentang bagaimana Yesus memandang orang banyak yang mengikutiNya. Yesus tidak memandang orang banyak itu sebagai objek mencari ketenaran. Yesus memandang mereka dengan belas kasihan. Mengapa? Karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Mereka tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga secara rohani. Selama ini mereka dibebani oleh ajaran-ajaran legalistik oleh para guru-guru Yahudi. Mereka lelah karena mereka harus memenuhi segala perintah dan menjauhi larangan yang terdapat dalam peraturan agama Yahudi. Kelelahan ini diperparah lagi karena pada akhirnya mereka tidak mendapatkan keselamatan. Mereka itu seperti domba yang tidak bergembala, karena gembala mereka yaitu para guru-guru Yahudi menyesatkan mereka. Mereka tidak digembalakan dengan baik sehingga tidak tahu arah jalan yang dituju. Karena itu, Yesus memandang mereka dengan belas kasihan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan terhadap orang banyak itu. Dia mempedulikan dan mengasihi mereka. Dia sendiri adalah gembala yang baik (Yoh. 10).

Ayat 37-38
Melihat orang banyak itu, Yesus berbicara dengan para muridNya. Dia mengatakan bahwa tuaian banyak, tetapi pekerja sedikit. Dia sedang memposisikan orang banyak dalam analogi pertanian yaitu sebagai tuaian. Orang banyak itu adalah panen yang banyak. Artinya, Yesus sedang mengatakan bahwa mereka tidak kekurangan orang yang dilayani. Banyak orang yang bisa dilayani. Yang menjadi masalah adalah kekurangan pekerja/pelayan. Karena itu, Yesus mendorong para muridNya untuk meminta kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Yesus sedang menunjuk pada Allah sebagai tuan yang empunya tuaian. Allahlah yang mempunyai orang banyak itu sebagai panen rohani. Keterpanggilan menjadi pelayan sebenarnya adalah pekerjaan Allah yang mengirimnya. Allahlah yang mempunyai jemaat, bukan pelayan. Pelayan adalah pekerja, bukan pemilik. Allahlah pemilik dari jemaat. Para murid diminta untuk meminta kepada Allah supaya mengirim pekerja untuk pelayanan.

Refleksi
1.     Minggu ini dinamai ‘Misericordias Domini yang berarti “Nyanyikanlah segala belas kasih Allah”. Di dalam minggu ini kita diingatkan untuk mengingat segala belas kasih Allah dan mensyukurinya. Belas kasih Allah adalah kasihNya yang menyelamatkan dan melayani. Belas kasih Yesus sebagaimana digambarkan dalam teks ini adalah kepedulianNya kepada kita dan orang lain. Yesus memandang setiap kita dengan belas kasihan. Belas kasihNya menjadi dasar kekuatan bagi kita untuk mengarungi kelelahan dan ketertelantaran kita. Kita masing-masing mempunyai kelelahan saat kita merasakan kepenatan dalam mengarungi kehidupan. Ketertelantaran terjadi saat kita merasa tidak tahu arah yang dituju, bingung akan kehidupan dan merasa tersesat. Di dalam kelelahan dan ketertelantaran itu, Tuhan Yesus berbelas kasih kepada kita.
Bahan epistel dari Yehezkiel 34:11-16 menceritakan bahwa Allah sendiri yang akan menggembalakan kita. Belas kasihNya menggerakkanNya berlaku sebagai gembala yang baik yang memperhatikan domba-dombaNya dan mencari domba yang tersesat. Yang hilang akan dicariNya, yang tersesat akan dibawa pulang, yang luka akan dibalutNya, yang sakit akan dikuatkanNya, serta yang gemuk dan yang kuat akan dilindungiNya.
2.     Belas kasih Yesus menggerakkanNya untuk melayani setiap orang. Belas kasih Yesus karenanya menjadi teladan bagi kita untuk melayani setiap orang, dari semua latar belakang, umur, kondisi ekonomi dan sosial. Dengan belas kasih Tuhan kita dimampukan untuk berbelas kasih kepada orang lain.
3.     Gereja/kita harus menyadari bahwa kita tidak kekurangan orang untuk dilayani. Malah, masih banyak orang-orang terpinggirkan yang belum kita layani. Karena itu, kita kiranya membiasakan diri untuk mendoakan supaya Tuhan mengutus para pekerjaNya dan memperlengkapi terus pekerja yang sudah ada.

Pdt. Walsen Napitu, MA

Postingan Terkait



0 komentar: