“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Selasa, 02 April 2013

Kisah Para Rasul 11:15-18 (Khotbah Minggu, 28 April 2013)

Memuliakan Allah melalui Pekabaran Injil

Pendahuluan
Dalam Kisah Para Rasul 10 diceritakan bahwa Petrus membaptis Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Kejadian ini terjadi di Kaisarea, ibukota Yudea di bawah pemerintahan Romawi. Kota ini merupakan kota perdagangan yang baik, dihias dengan istana-istana, gedung-gedung umum dan suatu amfiteater yang besar. Kaisarea mempunyai penduduk campuran. Kornelius merupakan seorang non-Yahudi yang dikenal sebagai ‘orang-orang yang takut akan Allah’, yang dalam konteks ini mengacu pada orang nonYahudi yang beribadah kepada Allah Israel. Mereka melakukan praktik-praktik keagamaan Yahudi, misalnya memberi sedekah dan berdoa. Setelah berkhotbah kepada Kornelius di rumahnya, Petrus menyuruh mereka dibaptis.

Kabar ini terdengar kepada para rasul dan orang-orang percaya lain di Yudea. Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia dengan menuduh Petrus telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka (11:2-3). Menurut hukum Yahudi, perbuatan ini tidak dapat dibenarkan (10:28). Orang-orang Kristen dari golongan bersunat itu mempermasalahkan hal ini. Petrus pun menjelaskan alasannya membaptiskan  Kornelius. Jadi, teks ini adalah bagian kelanjutan dari penjelasan Petrus kepada orang-orang percaya yang bersunat di Yerusalem.

Petrus menceritakan bahwa alasannya menerima Kornelius adalah karena Tuhan telah membuka jalan bagi bangsa-bangsa lain. Tuhanlah yang menyuruh Kornelius untuk memanggil Petrus. Tuhan jugalah yang menyuruh Petrus untuk pergi ke rumah Kornelius. Melalui tiga kali penglihatan makanan haram, Petrus diingatkan bahwa apa yang dinyatakan halal bagi Allah tidak boleh dinyatakan haram. Ini terjadi untuk mengubah pola pikir Petrus yang masih cenderung sempit memandang sasaran pekabaran Injil. Petrus akhirnya sadar bahwa dia tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Dasar keberaniannya untuk pergi ke rumah Kornelius adalah karena Allah telah membuka jalan dan mengubahkan cara berpikirnya.

Penjelasan
Ayat 15-16
Petrus menjelaskan bahwa saat dia mulai berbicara tentang Yesus, Roh Kudus turun ke atas Kornelius dan semua orang yang mendengarkan pemberitaan tersebut. Hal ini Petrus sebutkan sama dengan kejadian saat mereka dipenuhi Roh Kudus di Yerusalem pada hari Pentakosta. Petrus teringat akan perkataan Tuhan Yesus bahwa Yohanes membaptis dengan air, tetapi mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakannya kepada mereka sebelum Dia naik ke sorga (Kis. 1:5). Orang percaya akan dibaptis dengan Roh Kudus.

Ayat 17
Penjelasan Petrus ini menjadi dasar untuk tidak menolak apa yang Allah sedang kerjakan dalam diri Kornelius. Petrus menjelaskan bahwa sama seperti kepada para rasul saat percaya kepada Yesus, Allah juga memberikan karuniaNya kepada Kornelius dan semua yang mendengarkan pemberitaan Petrus. Dalam diri Petrus terjadi perubahan pola pikir yang amat drastis. Dia dan para rasul lain awalnya berpikir bahwa injil hanya diperuntukkan bagi orang bersunat/Yahudi dan inilah yang mereka lakukan selama ini. Tetapi kemudian, saat Allah membuka jalan bagi bangsa-bangsa lain, Petrus mau terbuka pada karya Allah tersebut dan menjadi alatNya untuk memberitakan Injil kepada bangsa lain. Meskipun mengetahui bahwa dia akan menerima kritik dari teman-teman Yahudinya, tetapi dia berani untuk menghadapi resiko tersebut dengan tetap taat kepada Allah. Injil tidak lagi dipahami sempit dalam golongan Yahudi saja, tetapi menjadi lebih universal. Allahlah yang pertama sekali membuka jalan dan pola pikir tersebut untuk menyatakan karunia keselamatan yang sama kepada bangsa lain secara lebih universal.

Ayat 18
Penjelasan Petrus tersebut ternyata bisa diterima oleh orang percaya golongan bersunat/Yahudi. Mereka yang semula berpikiran sempit kini berubah menjadi orang yang bisa menerima bangsa lain ambil bagian dalam keselamatan yang Allah kerjakan. Mereka tidak menggerutu dan terus berselisih paham. Mereka justru memuliakan Allah. Mereka menyimpulkan bahwa kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup. Mereka juga tidak lagi eksklusif dengan paham etnosentrismenya (berpusat pada suku sendiri). Injil kini telah dipahami luas bahwa keselamatan juga diperuntukkan kepada bangsa-bangsa lain.

Peristiwa ini membuka jalan bagi pekabaran Injil selanjutnya. Orang-orang Kristen tidak lagi menutup diri untuk hanya memberitakan Injil kepada bangsanya saja, tetapi kemudian berani untuk memberitakan injil kepada orang Yunani (11:20). Di kemudian hari, Paulus menjadi pemberita Injil yang konsisten bagi orang-orang nonYahudi di wilayah kekaisaran Romawi, meskipun peran Yahudi Kristen lain tetap menjadi penopang bagi pekabaran Injil di wilayah tersebut.

Refleksi
1.   Allah yang mengerjakan keselamatan kepada manusia ternyata adalah juga yang membuka jalan bagi pekabaran Injil. Dalam peristiwa Kornelius dan Petrus, Allah terlebih dahulu berbicara secara terpisah kepada mereka. Allah membuka kerinduan hati Kornelius terhadap Injil dan Allah membuka cara pandang Petrus tentang sasaran Injil. Dialah yang membuka jalan dan memberkati pekabaran Injil. Karena itu, kita harus terbuka pada cara-cara yang dikerjakanNya dalam pekabaran Injil yang kita lakukan.
2.  Injil harus dipahami secara universal. Artinya pemberitaan Injil haruslah mencakup semua bangsa. Kecenderungan untuk terikat pada kepentingan satu suku saja atau satu denominasi gereja saja kerap membuat pekabaran Injil tidak memiliki kesatuan wajah dan gerakan. Tumpang tindih dan saling tarik-menarik kepentingan bisa memicu kekacauan dalam pemberitaan Injil.
3.    Keberanian Petrus untuk keluar dari tradisi Yahudi mempunyai dasar yang kuat, yaitu perintah Allah. Atas perintah Allahlah dia berani membaptis Kornelius. Ini menjadi refleksi bagi kita untuk tetap konsisten memandang Firman Allah sebagai filter bagi tradisi-tradisi yang tidak alkitabiah.
4.    Kita bisa belajar tentang respons orang Kristen bersunat dan Petrus yang terbuka membicarakan perbedaan-perbedaan pendapat dan juga terbuka untuk saling menerima perbedaan berdasarkan firman Tuhan. Artinya, dasar yang tepat dalam penyelesaian perbedaan pendapat mereka adalah firman Tuhan. Respon orang Kristen bersunat akhirnya adalah memuliakan Allah. Melalui minggu Kantate yang berarti “nyanyikanlah Allah”, kita diajar untuk memuliakan Allah melalui pekabaran Injil yang diprakarsaiNya. Juga melalui epistel dari Mazmur 148:1-14 mengajarkan kita untuk memuliakan Dia  sebagai Pencipta bersama dengan ciptaan lainnya.

Pdt. Walsen Napitu, MA

Postingan Terkait



0 komentar: