“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Selasa, 02 April 2013

Mazmur 66:1-7 (Khotbah Minggu, 21 April 2013)

Sudahkah Anda Mengucap Syukur Hari Ini?


Pendahuluan
Minggu ini dinamai Jubilate, artinya: “Semuanya bersukacita kepada Allah”. Kata semua, berarti tanpa kecuali. Yang tua, yang muda, yang hidupnya susah, yang hidupnya senang, yang sedang berpesta maupun yang sedang menghadapi kemalangan. Yang bebas bekerja maupun yang sedang ada di penjara, tanpa kecuali!
           
Dalam nats ini, pemazmur mengajak umat Israel mengucap syukur bahkan dengan sorak-sorai (seperti menonton sebuah pertandingan sepak bola) mengingat kebaikan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari tanah perbudakan Mesir, yang menjauhkan mereka dari kematian hingga tiba di Tanah Perjanjian.

Melalui nats ini kita juga diingatkan agar tidak melupakan peranan Allah yang begitu besar dalam mengiringi perjalanan hidup kita, baik suka maupun duka.

Mengucap Syukur
Mengucap syukur = mengucapkan terima kasih. Mengapa kita mengucap syukur? Kita mengucap syukur karena kita telah menerima sesuatu yang baik dari pihak lain, biasanya dalam bentuk pertolongan.

Tolong dan terima kasih adalah sebagian dari kata-kata pertama yang diajarkan kepada kita. Tak ada yang segembira orangtua atau kakek dan nenek, saat seorang anak mengucapkan kata-kata itu untuk pertama kalinya dan tahu hubungan antara meminta dengan sopan dan menerima dengan berterima kasih.

Namun saat kita tumbuh dewasa, kita lebih terlatih untuk berkata "tolong" daripada "terima kasih", terutama kepada Bapa Surgawi. Kita lebih memusatkan perhatian kepada kebutuhan yang mendesak daripada apa yang sudah kita terima; kita lebih banyak memohon daripada menaikkan pujian. Allah memang mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita, tetapi Dia juga mendorong kita untuk membiasakan diri berterima kasih.

Ucapan syukur/terima kasih merupakan ungkapan penghargaan kita pada pihak lain yang telah menolong kita. Orang yang tidak mau mengucap syukur adalah orang yang tidak tahu berterimakasih. Dalam Lukas 17:11-18, dari 10 orang kusta yang disembuhkan Tuhan Yesus, hanya satu orang yang kembali pada Tuhan Yesus sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Dan orang itu justru orang Samaria. Padahal merekalah yang minta toong untuk disembuhkan tetapi setelah ditolong jadi tidak tahu diri dan tidak tahu berterimakasih. Sampai-sampai Yesus heran dan berkata; “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang Sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:17-18).
           
Banyak yang telah kita lupakan dalam perjalan hidup ini. Tapi dari sekian banyak kelupaan itu, lebih sering kita lupa untuk berterima kasih (mengucap syukur). Kita lupa mengucapkan terima kasih pada ibu yang elah susah payah mengandung dn melahirkan kita. Lupa pada peranan guru di sekolah yang telah membimbing kita. Lupa pada orang-orang yang teah berperan dalam kesuksesan karir dan pekerjaan kita, dsb. Jika pada sesama saja kita kebanyakan lupa berterima kasih bagaimana dengan Tuhan yang telah acap kali menolong hidup kita?

Ucapan syukur tampaknya telah menjadi seni yang hilang di masa kini. Warren Wiersbe menggambarkan masalah ini di dalam tafsirnya tentang Kitab Kolose. Ia bercerita tentang seorang murid sekolah Alkitab di Evanston, Illinois, yang menjadi anggota regu penyelamat. Pada tahun 1860, sebuah kapal kandas di tepi Danau Michigan dekat Evanston, dan Edward Spencer berulang kali berjalan di air beku untuk menyelamatkan 17 penumpang kapal. Dalam proses penyelamatan itu, kesehatannya menjadi buruk. Beberapa tahun kemudian, pada hari pemakamannya, diketahui bahwa ternyata tidak ada satu pun orang yang diselamatkannya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Marilah kita lebih sering meluangkan waktu untuk mengingat bagaimana teman, sahabat, keluarga telah banyak menolong kita. Bagaimana Allah telah menyelamatkan kita dari kematian kekal dan telah memberikan kehidupan kekal melalui Putra-Nya.
           
Sudahkah Anda mengucap syukur hari ini? Untuk memuliakan Allah dengan sukacita atas segala anugerah kehidupan yang telah diberikanNya? Tetaplah mengucap syukur. Sebab hanya orang-orang yang tidak pernah merasakan pertolongan saja yang pantas untuk tidak mengucap syukur!     Amin.

Pdt. Anthony L Tobing

Postingan Terkait



2 komentar:

renhard simatupang mengatakan... Balas

Terimakasih untuk tulisan yang sangat membangun. Tuhan memberkati

Anthony L Tobing mengatakan... Balas

@renhard simatupang: Amin, puji Tuhan... TYm