“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Senin, 16 April 2012

Yakobus 2:8-13 (Khotbah Minggu, 6 Mei 2012)

Mengasihi dengan ‘memandang muka’ = melawan Hukum Kristus

Pendahuluan
Meskipun surat Yakobus tidak mengandung argumentasi teologi yang mendalam tetapi ia merupakan surat yang sangat praktis. Apa yang Yakobus tuliskan dalam suratnya merupakan pengajaran bagi ‘orang percaya’ bagaimana mereka seharusnya memperaktekkan imannya.

Dalam Yak. 2:1-7, Rasul Yakobus membahas masalah yang lazim terjadi di tengah jemaat yaitu sikap memandang muka (pilih kasih). Dengan gamblang ia mengatakan bahwa orang yang percaya pada Kristus tidak boleh memandang muka. Mengapa rasul Yakobus begitu prihatin dengan masalah memandang muka di dalam jemaat? Karena hal memandang muka, pilih kasih merupakan penentangan terhadap hukum Kristus dan orang Kristen tidak seharusnya melakukan hal itu.

Penjelasan
Himbauan dari rasul Yakobus adalah: kita merupakan umat yang telah menerima belas kasihan dari Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah raja kita dan hukum dari kerajaan-Nya dirangkum di dalam perintah “mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri”. Ia juga mempersyaratkan kita untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Ini adalah perintah yang harus ditaati oleh setiap orang yang telah menerima belas kasihan. Kita tidak dapat mencapai standard absolut di dalam mengasihi sesama seperti diri kita sendiri tetapi Yakobus memberitahu kita bahwa Allah adalah penuh belas kasihan dan jika kita belajar untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain di dalam kehidupan seharian kita, kita pasti akan menerima belas kasihan-Nya di Hari Penghakiman nanti.

Memandang muka bertentangan dengan semangat mengasihi sesama seperti diri kita sendiri karena jika demikian kita tidak menunjukkan belas kasihan Kristus kepada orang lain. Dengan memilih kasih dan memandang muka, kita sedang menyangkal identitas kita sebagai warga kerajaan Surga. Hal ini juga membuktikan bahwa kita tidak layak untuk menerima rahmat dari Allah (Mat. 18.21-24).

Setiap orang Kristen harus menghadapi penghakiman Allah (Yak. 5) dan standard atau asas penghakiman adalah "mengasihi sesama seperti diri kita sendiri". Tidaklah mungkin bagi kita untuk mencapai standard yang mutlak tetapi jika kita sepenuhnya berserah untuk hidup di bawah pemerintahan Allah dan mengejar hal mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, kita pasti akan ditunjukkan belas kasihan pada akhirnya. Kita tidak perlu takut akan penghakiman. Malah kita akan merindukannya, karena kita akan menerima belas kasihan Allah. Hanya mereka yang sesungguhnya mengasihi Allah yang tidak perlu takut pada penghakiman Allah karena mereka melakukan segala sesuatu di dalam kehendak Allah. Mereka merdeka karena mereka hidup sesuai dengan hukum yang memerdekakan mereka.

Refleksi
Gaya, penampilan, kekayaan, jabatan seseorang dan lain sebagainya seringkali membuat orang lain memperlakukannya menjadi istimewa. Orang lain memperlakukannya berbeda dari orang yang berpenampilan sederhana apalagi lusuh dan kumal. Kejadian seperti ini memang merupakan kejadian nyata sehari-hari yang ada dalam kehidupan kita. Seringkali kita sebagai manusia justru lebih sering menilai seseorang dari penampilan luarnya.

Sebuah film pernah menampilkan kisah seorang Bapak yang hidup dijalanan bersama seorang anak kecil yang juga ia temui dan kenal di jalanan. Suatu kali, mereka mendapatkan sebuah dompet yang terjatuh, berisi banyak uang. Sahabat kecilnya punya keinginan sejak dulu untuk dapat menikmati makanan enak di sebuah restoran mewah yang sering mereka lalui. Si Bapak mengajak anak kecil sahabatnya itu menuju restoran yang dimaksud. Sesampainya di pintu restoran itu, mereka dihalangi oleh penerima tamu dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Seorang security juga mendatangi mereka sambil dengan halus menyuruh mereka pergi. Si kecil sedih karena tidak bisa menikmati makanan enak idamannya. Kemudian si Bapak mengajaknya berbelanja ke sebuah toko pakaian dan membeli untuk mereka setelan pakaian dan sepatu yang mahal harganya. Setelah berganti penampilan, mereka kembali menuju restoran tadi dan sambutan dari penerima tamu sudah berbalik menjadi ramah. Seperti itulah kondisi manusia yang memang secara kodrati lebih melihat penampilan luar saja.

Alkitab mengatakan bahwa kita sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita tidak boleh mengamalkan iman kita dengan memandang muka. Kita harus meneladani Yesus Kristus yang dalam melakukan pelayananNya tidak pernah memandang muka. Jika kita perhatikan, kedua belas murid Yesus berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, mulai dari nelayan yang mungkin adalah orang yang miskin, pemungut cukai yang pastinya kaya walaupun mungkin uangnya berasal dari hal-hal yang tidak baik, pemberontak Zelot, dan lain sebagainya. Bahkan dalam pelayananNya, Tuhan Yesus tidak pernah menolak orang-orang dari status sosialnya. Ia memang dekat dengan orang-orang miskin, tetapi Tuhan Yesus pun juga pernah menyembuhkan anak seorang perwira, dan bahkan banyak perempuan-perempuan kaya yang pernah disembuhkan oleh Tuhan Yesus (Luk 8:1-3). Pelayanan yang dilakukan Tuhan Yesus tidak melihat status sosial dari orang yang menerima pelayananNya.

Memandang muka atau pilih kasih bukanlah hal yang dikehendaki oleh Yesus Kristus untuk dilakukan murid-muridNya kepada orang lain. Yesus mau agar murid-murid termasuk kita semua yang mengaku percaya kepadaNya memperlakukan hal yang sama kepada orang lain seperti yang pernah dilakukanNya. Memperlakukan orang lain dengan memandang muka dan pilih kasih bisa membuat orang lain menjadi kecil hati dan tidak memiliki arti. Memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang sama, lebih baik daripada memperlakukannya dengan pilih kasih. Tuhan memilih kita tidak dengan pilih kasih, Dia tidak mengangkat kita menjadi umatNya karena jabatan yang kita punya, bukan karena kekayaan yang dimiliki, bukan karena kebaikan kita, tetapi karena kasihNya yang tidak pernah memandang muka. Latarbelakang kehidupan kita yang buruk bukan menjadi alasan bagi Tuhan untuk tidak mengasihi kita. Tetapi dengan penuh kasih kita diangkat dari noda kotor, dibersihkan dan disucikan dengan darahNya yang kudus dan diangkat menjadi  milik kepunyaannya yang kudus dan berkenan kepadaNya (1 Petrus 2:9). Kalau Tuhan saja tidak memandang muka kepada manusia, mengapa kita juga tidak melakukan hal yang sama? Mengapa kita masih memperlakukan sesama kita dengan melihat jabatan, kekayaan, dan penampilannya?

Seorang tunawisma yang berpakaian lusuh masuk ke sebuah toko baju yang sangat mahal.  Suatu hal yang aneh, sekalipun para pegawai toko sudah mengetahui ia seorang tunawisma yang tidak akan mampu membeli baju di sana, tetapi ia tetap dilayani dengan sangat baik sama seperti para pengunjung lainnya.  Ada seorang pengunjung toko yang melihat hal tersebut dan bertanya mengapa tunawisma itu diperlakukan layaknya seorang pelanggan, pegawai yang melayani tunawisma itu mengatakan bahwa bukan tugas mereka untuk menilai orang yang datang ke toko itu, tetapi tugasnya hanyalah melayani mereka dengan baik.

Marilah kita memperlakukan dan mengasihi sesama dengan tulus dan tidak memandang muka agar nama Tuhan semakin dimuliakan. Amin

Pdt. Anthony L Tobing

Postingan Terkait



0 komentar: