“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" Yohanes 15:16

Selasa, 15 November 2011

Naskah Drama Natal Anak: "Mencari Karung Santa"

Oleh: Purnawan Kristanto

Sinopsis:
Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia berkelakuan baik. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Bu Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Bu Santa dan kawan-kawan harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

Tokoh-tokoh:

1.      Bu Santa  
2.      Dora
3.      Bud
4.      Diego
5.      Raksasa Egois
6.      Raksasa Iri Hati
7.      Raksasa Kebencian 
8.      Raksasa Kemarahan
9.      Raksasa Pemberontak
10.  Pencerita

 Alat:

-          Pakaian Bu Santa
-          Karung Santa Klaus
-          Mainan untuk dibagikan
-          Boneka Monyet
-          Kostum Dora
-          Kostum Diego
-          Kertas Plano untuk Peta
-          Spidol besar

Babak I: Rapat Para Raksasa

Pencerita:
Adik-adik, siapa yang mengenal Santa Klaus? Wah, rupanya banyak yang mengenalnya.  Kalau kalian mengenal, coba buktikan seperti apa Santa Klaus itu? Siapa yang tahu ciri-cirinya? Badannya kurus atau gendut? Di wajahnya ada apanya? (janggut. Warna putih). Apa warna pakaiannya? (Merah). Kalau tertawa bunyinya sangat khas. Siapa yang bisa menirukan kalau Santa Klaus tertawa? (Ho...ho...ho). Santa punya karung besar. Isinya apa? (Mainan). Mainan itu diberikan kepada anak-anak yang selama setahun berperilaku baik. Jika anak itu rajin belajar, tidak membandel, suka menolong temannya, tidak pernah bertengkar dan sebagainya, maka Santa Klaus akan memberikan hadiah kepadanya.

Konon menurut dongeng, Santa Klaus ini muncul pada malam Natal. Dia mengendarai kereta salju, yang ditarik oleh rusa-rusa kutub.  Keretanya itu dihiasi dengan lonceng-lonceng kecil atau kerincingan. Kalau berjalan, kerincingan itu berbunyi. Bagaimana bunyinya? Ketika kereta Santa  sampai di depan rumah yang ada anak-anak di dalamnya, Santa menghentikan keretanya. Dia lalu membuka karungnya, mengambil hadiah di dalamnya, lalu diam-diam meletakkan hadiah itu di dalam rumah anak itu. Esok paginya, ketika anak-anak bangun pagi dan siap-siap pergi ke gereja, mereka mendapati ada hadiah di rumahnya. Mereka membuka hadiah itu dengan hati yang gembira. Pada hari Natal itu, anak-anak pergi ke gereja dengan hati yang riang gembira. Semua orang merasakan kegembiraan hari Natal.

Tapi.....oh...ternyata tidak semua orang bergembira. Lihat siapa tuh yang ada di sana! [Raksasa Iri Hati masuk panggung] Lihatlah wajahnya yang cemberut. Dia terlihat kesal sekali. Dia kelihatan sedang merasa marah. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuatnya marah? Kita tanya padanya, yuk!

Hei,  siapakah Mas/Mbak ini? Apakah saya boleh tahu nama Mas/Mbak?


1.    Raksasa (R) Iri Hati
:
Namaku Raksasa Iri Hati.
2.    Pencerita
:
Saya lihat Anda gelisah sekali. Mondar-mandir ke sana kemari. Ada apa sih?
3.    R. Iri Hati
:
Iya nih....saya sedang sebel sekali...sebel...sebel....sebel banget.
4.    Pencerita
:
Lho, sebel sama siapa?
5.    R. Iri Hati
:
Saya sedang sebel sama Santa Klaus.
6.    Pencerita
:
Lho sebabnya apa?
7.    R. Iri Hati
:
Begini ceritanya . . . Namaku 'kan Raksasa Iri Hati. Sesuai dengan namaku, maka tugasku adalah membuat anak-anak di dunia ini menjadi iri hati pada temannya. Saya akan membisiki anak-anak supaya iri pada orang lain. Kalau temannya mendapat nilai bagus dalam ulangan, maka saya bisiki anak itu supaya iri dan benci pada temannya. Kalau ada temannya yang menjadi juara menyanyi, saya bisiki anak itu supaya tidak suka pada keberhasilan teman-temannya itu. . . .
8.    Pencerita
:
Lho terus apa hubungannya dengan Santa Klaus
9.    R. Iri Hati
:
Tunggu dulu, dong. . . . saya 'kan belum selesai cerita. Tapi gara-gara Santa Klaus ini, aku menjadi kesulitan membujuk anak-anak supaya iri pada temannya. Soalnya tuh begini. Santa Klaus 'kan hanya mau memberikan hadiah pada anak-anak yang baik budinya. Karena itu, anak-anak sekarang pada mau berkelakuan baik. Mereka nggak mau lagi aku bujuk supaya iri pada temannya. Jadinya, aku gagal menjalankan tugasku....sebel-sebel
10.  Pencerita
:
Oooo begitu to ceritanya? Kaciiiaaaan deh Elo [Raksasa Egois masuk]
11.  R. Iri Hati
:
Eh. . . . kamu Raksasa Egois. Mukamu kok mendung begitu, seperti aku. Ada apa?
12.  R. Egois
:
Sama seperti kamu. Aku juga sedang dongkol tuh sama Santa Klaus.
13.  R. Iri Hati
:
Lho apa sebabnya? Apakah kamu dimarahi oleh Santa Klaus.
14.  R. Egois
:
Namaku 'kan Raksasa Egois. Sama seperti namaku, maka tugasku adalah membujuk anak-anak supaya egois. Kalau ada anak punya makanan, maka aku bisikin ke telinganya supaya nggak mau berbagi makanan dengan temannya. Kalau ada anak yang punya sepeda, lalu ada temannya yang pingin membonceng, aku bilang padanya, "Apa kamu nggak kecapekan mengayuh sepeda. Dia enak membonceng di belakang. Lha kamu, harus ngos-ngosan mengonthel sepeda di depan. Jangan kamu bolehkan dia membonceng." Tapi gara-gara Santa Klaus itu tuh, banyak anak-anak yang emoh aku ajak supaya egois. Mereka tidak mau mementingkan diri sendiri lagi.
15.  R. Iri Hati
:
Lho, emangnya apa yang dilakukan Santa Klaus sehingga membuat anak-anak tidak mementingkan diri sendiri lagi?
16.  R. Egois
:
Santa Klaus 'kan suka membagi-bagi hadiah pada anak-anak. Padahal dia 'kan tidak pernah mendapat apa-apa dari anak-anak. Meski begitu, Santa Klaus tetap saja membagikan anak-anak. Anak-anak rupanya ingin meniru Santa Klaus. Jika teman-temannya membutuhkan bantuan, maka anak-anak itu akan memberikan pertolongan.
17.  R. Iri Hati
:
Oh begitu ceritanya....rupanya kita senasib. [Raksasa Kebencian,  Raksasa Kemarahan, Raksasa Pemberontak masuk panggung. Mereka kelihatan sedang berbincang serius]
18.  R. Kebencian
:
Kita harus mengambil tindakan sekarang. Perbuatan Santa Klaus ini tidak boleh dibiarkan merajalela. Gara-gara dia nih, aku sekarang sering gagal mengajak anak-anak untuk saling membenci. Namaku 'kan Raksasa Kebencian. Tugasku adalah membuat anak-anak supaya saling membenci. Tapi karena ulah Santa Klaus itu, aku tidak dapat mengajak anak-anak untuk membenci.
19.  R.Kemarahan
:
Betul. Kita harus mengambil tindakan. Aku si raksasa Kemarahan, benar-benar marah saat ini. Anak-anak sekarang tidak mudah marah lagi. Mereka sekarang ini sabaaaar banget. Meskipun disakiti, diejek atau dicurangi, mereka tidak cepat marah.  Ini gara-gara Santa Klaus itu. Santa itu senang sekali tertawa. Kalau tertawa, bunyinya 'ho....ho...ho...ho'. Anak-anak suka menirukan tawa Santa itu. Karena suka tertawa, mereka tidak gampang marah.
20.  R.Pemberontak
:
Ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Namaku raksasa Pemberontak. Tugasku membujuk anak-anak supaya memberontak pada orang yang lebih tua. Aku mengajak mereka membantah nasihat orang tua. Aku membujuk mereka supaya tidak patuh pada perintah guru. Aku membisiki mereka supaya menentang ketua kelas. Tapi karena kerjaan Santa itu pula, anak-anak sekarang menjadi penurut. Mereka patuh pada nasihat dan ajaran yang baik.
21.  R. Kebencian
:
Ayo kita mengadakan rapat!
22.  R.Kemarahan
:
Ayo kita berkumpul! [Kelima raksasa berkumpul]
23.  R.Pemberontak
:
Teman-teman, kita harus memberi pelajaran pada Santa Klaus
24.  R. Iri Hati
:
Caranya bagaimana?
25.  R. Egois
:
Sebentar lagi hari Natal. Kita harus mencegah Santa Klaus membagi-bagi hadiah kepada anak-anak.
26.  R. Iri Hati
:
Mengapa begitu?
27.  R. Egois
:
Supaya anak-anak mudah kita bujuk lagi. Kalau pada hari Natal Santa tidak membagi-bagikan hadiah, maka anak-anak menjadi kecewa pada Santa. Nah, pada saat itu kita mudah membujuk anak-anak supaya jadi pengikut kita.
28.  R.Kemarahan
:
Setuju. Ayo kita gagalkan pembagian hadiah pada Natal ini! Biar anak-anak pada gigit jari . . .  hi . . . hi . . . hi
29.  R.Pemberontak
:
Tapi caranya bagaimana?
30.  R. Iri Hati
:
Bagaimana kalau kita culik Santa Klaus? Kita mengikat Santa Klaus dan menyembunyikan di gua kita.
31.  R. Egois
:
Aku nggak setuju!
32.  R. Iri Hati
:
Lho, mengapa?
33.  R. Egois
:
Habis si Santa itu gendut. Kalau kita menculik dia, siapa yang kuat menggendongnya, hayo? Belum lagi kalau dia minta makan. Siapa yang mau menyediakan makannya?
34.  R. Iri Hati
:
Eh, iya...iya
35.  R. Kebencian
:
Aku punya usul. Bagaimana kalau kita curi saja rusa-rusa Santa Klaus. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menarik kereta salju Santa.
36.  R.Kemarahan
:
Aku nggak setuju. Soalnya rusa-rusa itu suka berisik. Bagaimana kalau pas kita mengambilnya, tiba-tiba rusa-rusa itu mengeluarkan suara gaduh? Pak Santa dan Bu Santa bisa terbangun, tuh
37.  R.Pemberontak
:
Aku punya usul. Bagaimana kalau kita curi saja Karung hadiahnya. Dengan begitu, Santa tidak dapat pergi pada malam Natal karena tidak ada hadiah yang akan dibagikan.
38.  R. Kebencian
:
Aku setuju. Bagaimana yang lainnya? Setuju (Raksasa lainnya mengangguk setuju)
39.  R.Kemarahan
:
Oke, kalau begitu kita harus menyusun rencana. Rencananya begini . . . .  (Semua raksasa berunding sambil berbisik).  Sudah paham semua? Kalau begitu, kita laksanakan malam ini juga. Ayo kita curi Karung hadiah Santa Klaus!!

[Semua raksasa keluar dari Panggung]

Babak II: Karung Dicuri

Pencerita: 
Demikianlah, kelima raksasa itu akan melaksanakan rencananya untuk mencuri Karung Santa Klaus.
Sekarang mari kita lihat rumah pak Santa Klaus. Di rumah itu, pak Santa sudah menyiapkan hadiah-hadiah untuk anak-anak sedunia.  Tapi dia harus memperbaiki kereta saljunya. Tahun lalu, kereta itu rusak karena tergelincir dan menabrak pohon. Pak Santatidak bisa memperbaikinya sendiri. Dia harus membawa kereta itu ke bengkel. Karena itu, dia minta tolong isterinya, yaitu bu Santa, untuk memasukkan hadiah-hadiah ke dalam karung.  Lihatlah bu Santa sedang memasukkan hadiah ke dalam Karung.
[Bu Santa masuk, sambil membawa Karung Santa. Dia memasukkan beberapa buah hadiah ke dalam Karung]

40.  Bu Santa
:
[menyapa penonton] Halo, teman-teman, apa kabar. Apakah ada yang sudah kenal dengan aku. Kalau pakai pakaian seperti ini, kira-kira namaku siapa, hayo? Ya, benar. . . . namaku bu Santa. Lho, apa hubungannya dengan Santa Klaus? Aku adalah isterinya pak Santa Klaus. Maka orang-orang memanggilku bu Santa.
Sebentar lagi Natal akan tiba. Itu artinya pak Santa Klaus harus bertugas lagi. Dia harus membagikan hadiah-hadiah  kepada anak-anak di seluruh dunia. Tapi, pak Santa sedang kerepotan nih. Keretanya rusak. Pak Santa harus membawa kereta itu ke bengkel untuk diperbaiki. Itu sebabnya, pak Santa meminta tolong bu Santa untuk memasukkan hadiah-hadiah ini ke dalam karung.
Aku sih senang-senang saja melakukan ini.  Aku membayangkan anak-anak akan tersenyum bahagia karena mendapat hadiah dari pak Santa. Ada anak yang berteriak kegirangan, 'Asyik, aku mendapat buku gambar baru. Aku jadi bisa menggambar pesawat, mobil dan kapal.' Kemudian anak yang lain juga berseru dengan gembira, 'Hore....aku mendapat tas baru. Tasku yang lama sudah bolong. Aku sekarang tidak kuatir buku-bukuku akan jatuh.' Terus ada anak yang melompat-lompat senang, 'Puji Tuhan, aku mendapat sepatu baru. Sepatuku yang lama sudah rusak. Sekarang aku bisa berolahraga lagi.'
Duh senangnya, membayangkan wajah anak-anak yang kegirangan. Tapi ngomong-ngomong, aku sekarang merasa lelah. Aku merasa mengantuk sekali [menguap]. Pak Santa pulangnya masih lama nggak ya? Aku sudah pingin tidur, nih. Rasanya ngantuk banget. Aku mau tidur sebentar aja deh. Karungnya aku simpan di sini saja. Nanti pak pak Santa pulang, aku pasti sudah bangun tidur.
[Bu Santa tidur lelap sekali. Kelima raksasa masuk dengan mengendap-endap. Bu Santa tidak tahu kalau ada pencuri masuk rumahnya. Setelah mencari kesana-kemari, kelima raksasa itu berhasil menemukan Karung hadiah Santa. Mereka segera melarikan Karung itu. Tapi ada salah satu Raksasa Iri Hati tanpa sengaja menjatuhkan sapu tangannya]

41.  Bu Santa
:
[Tiba-tiba terbangun dengan kaget] Aku tadi bermimpi buruk sekali. Apa yang akan terjadi ya? Apakah pak Santa mendapatkan masalah? Semoga saja dia tidak apa-apa. Pak Santa sebentar lagi pulang. Sebaiknya aku simpan dulu Karung hadiah itu, lalu aku siapkan teh hangat untuk pak Santa. Tapi, lho dimana Karung hadiah itu, ya? Perasaan aku tadi meletakkannya di sini. Tapi sekarang kok tidak ada, ya? Aduh, bagaimana nih, kalau karung itu tidak ditemukan? Bisa-bisa pak Santa tidak bisa membagikan hadiah pada malam Natal itu. Wah gawat, dimana nih Karung itu! [mencari-cari dengan kebingungan. Tiba-tiba dia menemukan selembar sapu tangan yang terjatuh] Lho, apa ini? Sepertinya, saputangan ini bukan milkku. Juga bukan kepunyaan pak Santa. Punya siapa, ya? [meneliti saputangan. Menemukan inisial nama di pojok saputangan] Oh di sini tertulis nama pemiliknya: "Raksasa Iri Hati". Berarti sapu tangan ini milik "Raksasa Iri Hati." Tapi kenapa ada di sini? Siapa yang membawanya ke sini? Kalau begitu, aku akan mengembalikan sapu tangan ini ke Raksasa Iri Hati. Sekalian saja bertanya kepadanya, apakah dia tahu dimana Karung itu berada. [Bu Santa pergi mencari Karung]

Babak III: Raksasa Bergembira

Pencerita: 
Aduh, kasihan bu Santa. Dia kehilangan Karung hadiah itu. Padahal karung itu berisi hadiah-hadiah. Bagaimana, nih. Ya, terpaksa deh, bu Santa mencari karung itu. Padahal dia tidak tahu dimana karung itu berada. Satu-satunya petunjuk yang dia miliki adalah sapu tangan yang tertinggal. Moga-moga saja, bu Santa dapat menemukan karung itu.
[Kelima raksasa masuk panggung sambil membawa karung. Mereka tampak gembira karena berhasil mencuru karung Santa]

42.  R. Kemarahan
:
Berhasil, berhasil, berhasil. Kita berhasil mencuri Karung Santa.
43.  R. Iri Hati
:
Ya, itu berkat idemua yang jenius. Kita tadi mengendap-endap masuk ke dalam rumah Santa Klaus.
44.  R. Egois
:
Kebetulan yang ada di rumah hanya ada bu Santa.
45.  R. Pemberontak
:
Kebetulan juga, bu Santa sedang tertindur nyenyak sekali. Sepertinya, dia capek banget setelah bekerja keras.
46.  R. Kebencian
:
Kebetulan juga, bu Santa lupa mengunci pintu rumahnya, sehingga kita bisa masuk ke dalam rumahnya.
47.  R.Kemarahan
:
Kebetulan juga, Karung ini tidak disimpan di tempat yang tidak kita tahu. Jadi kita bisa langsung mengambilnya hi . . .hi . . .hi
48.  R. Pemberontak
:
Sekarang kantong itu ada di sini. Bayangkan, betapa kagetnya Pak Santa dan bu Santa ketika tahu bahwa Karungs sudah hilang.
49.  R. Iri Hati
:
Bayangkan juga wajah anak-anak di seluruh dunia yang kecewa karena Natal tahun ini tidak mendapat hadiah dari Santa. Mereka akan kecewa sekali.
50.  R. Egois
:
Dan kita akan mudah mempengaruhi mereka untuk berkelakuan jahat.
51.  R. Kemarahan
:
Oke . . . kita boleh senang karena berhasil mencuri Karung Santa, tapi kita tidak boleh enak-enakan. Bu Santa pasti akan mencari karung ini. Karena itu, kita harus menjaga karung ini supaya tidak diambil lagi.
52.  R. Pemberontak
:
Setuju. Kita harus menjaganya secara bergiliran. Hei, Raksasa Iri Hati, mau nggak kalau kamu yang mendapat giliran pertama?
53.  R. Iri Hati
:
Aku mau.
54.  R. Pemberontak
:
Oke. Kalau begitu, ayo kita bawa karung ini ke dalam gua kita.

Babak IV: Bu Santa Bertemu Dora

Pencerita: 
Lihatlah, karung itu disembunyikan para raksasa! Mereka terlihat senang karena berhasil mengganggu pekerjaan pak Santa dan bu Santa.  Kira-kira, apakah bu Santa bisa menemukan karung itu, nggak ya? Yuk kita lihat bu Santa! [Dora, Diego dan Bud masuk]
Eh, siapa tuh yang ada di sana? Kelihatannya kita sudah pernah lihat mereka. Tapi dimana ya? Kenalan dengan mereka, yuk! Halo, [menyapa Dora, Diego dan Bud]. . . kayaknya aku pernah melihat kalian. Boleh kenalan, nggak!

55.  Dora
:
Halo, teman-teman . . .  namaku Dora. Kalian sudah kenal aku 'kan. Itu lho, yang sering tampil di acara TV itu. Aku punya dua teman, nih. Mereka mau memperkenalkan diri.
56.  Bud
:
Halo teman-teman . . .  namaku Bud. Aku teman Dora. Aku yang selalu menemani Dora kalau dia sedang berjalan-jalan.
57.  Diego
:
Kalau aku, namaku Diego. Aku juga teman Dora dan Bud ini. Kami sering berjalan-jalan bersama. Sekarang ini, kami mau jalan-jalan di Salatiga ini.  Kira-kira ada makanan yang enak, nggak ya? Apa sih makanan yang enak di sini?
58.  Dora
:
Iya, nih . . .  ngomong-ngomong soal makanan, aku kok jadi lapar ya.  Kita istirahat dulu, yuk. Kita makan dulu. Kalau sudah kenyang, nanti kita berjalan lagi [Dora, Diego dan Bud duduk. Bu Santa masuk. Ketiga orang tadi tidak jadi makan. Bu Santa kelihatan bingung]
59.  Dora
:
Maaf, . . . kalau tidak salah, Ibu ini yang bernama bu Santa. Benar 'kan?
60.  B. Santa
:
Memang benar. Saya bu Santa. Kamu ini siapa? Dan siapa kedua temanmu itu?
61.  Dora
:
Nama saya Dora.
62.  Diego
:
Saya Diego
63.  Bud
:
Saya Bud
64.  B. Santa
:
Apakah kalian yang sering bermain di TV itu?
65.  Dora
:
Benar, bu. Itu kami. Tapi ngomong-ngomong, saya lihat tadi ibu agak kebingungan. Ada apa sih?
66.  B. Santa
:
Benar, Dora. Saya sedang mencari karung pak Santa yang hilang.
67.  Diego
:
Kok bisa hilang? Bagaimana ceritanya?
68.  B. Santa
:
Waktu itu, saya baru saja selesai memasukkan hadiah ke dalam karung. Lalu saya tinggal tidur sebentar. Eh, waktu bangun, sudah tidak ada. Saya sudah mencari kesana-kesini, tapi hanya menemukan sapu tangan ini.
69.  Dora
:
Oh, begitu ceritanya. Eh, Diego bagaimana kalau kita tolong bu Santa menemukan karungnya. Setuju? [Diego mengangguk] Kamu, Bud? Setuju? [Bud mengangguk setuju]
70.  B. Santa
:
Kalian memang anak-anak yang baik. Saya mengucapkan terimakasih sebelumnya. Tapi kita akan mencari kemana? Saya hanya punya sapu tangan ini sebagai petunjuk.
71.  Diego
:
[mengamati sapu tangan] Di sini tertulis nama "Raksasa Iri Hati". Hei, Bud . . . tahukah kamu dimana rumah raksasa Iri Hati?
72.  Bud
:
Kita tanya saja pada peta.  Dora, ambil peta di ranselmu.
73.  Dora
:
Menurut petunjuk di peta ini, raksasa Iri Hati tinggal di gunung Kejahatan. [berbicara kepada penonton] Teman-teman, tolong dong, ditunjukkan jalan menuju gunung Kejahatan [Dora, Bud dan Diego meminta tolong penonton untuk menunjukkan jalan yang harus dilalui]
74.  B. Santa
:
Terimakasih. Sekarang kita sudah tahu jalan ke gunung Kejahatan. Ayo kita berangkat ke sana!

Babak V: Bertarung dengan Raksasa

Pencerita: 
Bu Santa, Dora, Bud dan Diego segera berjalan menuju gunung Kejahatan. Mereka berjalan mendaki gunung itu, sambil menyanyi naik-naik ke puncak gunung. Kita sama-sama menyanyi yuk [mengajak menyanyi "naik-naik ke puncak gunung"]
[Bu Santa, Dora, Bud dan Diego keluar panggung]
Kita tinggalkan bu Santa dan teman-temannya. Sekarang ayo kita tengok ke gunung Kejahatan. Lihat ada apa di sana? [Raksasa Iri Hati masuk] Siapa itu? Oh, rupanya ada Raksasa Iri Hati. Sedang apa di sana? Hei, raksasa Iri Hati? Sedang apa kau di situ?

75.  R. Iri Hati
:
Aku di sini bertugas menjaga karung Santa. Kami baru saja mencuri karung ini dari rumah bu Santa.
76.  Pencerita
:
Mengapa kamu mencuri karung itu? Mencuri itu tidak baik, lho!
77.  R. Iri Hati
:
Karung ini berisi hadiah untuk anak-anak. Kalau pak Santa kehilangan karung ini, maka dia tidak bisa membagikan hadiah kepada anak-anak  pada malam Natal nanti. Lalu, anak-anak menjadi kecewa. Mereka akan ngambek, merengek, menangis, bahkan ada yang menjadi nakal. Kalau sudah begitu, anak-anak itu akan kujadikan pengikutku.
78.  Pencerita
:
Idiiih, itu 'kan rencana jahat.
79.  R. Iri Hati
:
Kami memang makhluk jahat ha...ha....ha. . . .Eh lihat tuh, siapa yang datang? [bu Santa dkk masuk panggung]
80.  B. Santa
:
Apakah kamu yang bernama Raksasa Iri Hati?
81.  R. Iri Hati
:
Betul. Ada perlu apa dengan saya?
82.  B. Santa
:
Apakah saputangan ini milikmu? Saya tadi menemukan saputangan ini di rumah saya. Entah bagaimana saputangan ini bisa ada di sana.
83.  R. Iri Hati
:
Sapu tangan ini memang milik saya.
84.  B. Santa
:
Waktu menemukan sapu tangan ini, saya sedang mencari-cari karung pak Santa. Oh, ya sekalian mau tanya, apakah kamu tahu dimana karung itu berada?
85.  R. Iri Hati
:
Ha...ha...ha.... Walaupun dicari kemana-mana, karung itu nggak bakal ditemukan. Lha wong, kami curi, kok.
86.  B. Santa
:
Ooooo....jadi karung dicuri, to? Pantesan aku cari kemana-mana tidak ketemu. Sekarang kembalikan karung itu. Soalnya, anak-anak di seluruh dunia menantikan hadiah itu.
87.  R. Iri Hati
:
Enak saja . . . Nggak bisa, dong!
88.  B. Santa
:
Mengapa kamu mencuri karung kami?
89.  R. Iri Hati
:
Soalnya, aku iri melihat pak Santa yang disukai oleh anak-anak.  Kalau dia datang, semua anak-anak senang menyambutnya. Gambarnya dipasang dimana-mana. Di majalah ada, di TV ada, di buku ada, bahkan di toko-toko ada juga gambar Santa Klaus. Tapi aku sendiri, tidak ada yang suka padaku. Orang-orang selalu lari kalau melihat aku.  Mengapa sih, pak Santa punya banyak teman? Mengapa dia disukai banyak?
90.  B. Santa
:
Itu karena pak Santa selalu membuat orang lain merasa senang. Apakah kamu pernah melihat pak Santa membuat jengkel orang lain? Tidak pernah bukan? Ingat nggak, Tuhan Yesus pernah berkata, 'Perlakukanlah orang lain seperti kalian ingin diperlakukan oleh mereka. '
91.  Dora
:
Maksudnya, kalau kamu lebih dulu membuat orang lain senang, maka orang-orang akan senang berteman dengan kamu. 
92.  Diego
:
Kalau kamu berbuat baik pada teman-temanmu, maka teman-temanmu akan berbuat baik kepadamu.
93.  Bud
:
Kalau kamu selalu ramah dan tersenyum kepada orang lain, maka orang lain akan ramah dan tersenyum kepadamu.
94.  R. Iri Hati
:
Oh, begitu, ya. Oke deh kalau begitu aku akan membuat orang lain merasa senang.  Aku pergi dulu, ya!
95.  Diego
:
Eh, tunggu dulu . . . Dimana karung itu berada?
96.  R. Iri Hati
:
Tanya saja pada Raksasa Egois . . . Daaaaaa [Pergi]
97.  Dora
:
Wah, bagaimana sih Raksasa Iri Hati, tuh. Kita 'kan nggak tahu dimana Raksasa Egois berada.
98.  Bud
:
Kita panggil saja namanya . . .
99.  Diego
:
Teman-teman, bantu kami, ya . . . Yuuuk kita bersama-sama memanggil raksasa Egois [Mengajak penonton memanggil nama raksasa Egois. Raksasa Egois muncul]
100.   R. Egois
:
Siapa yang memanggil namaku?
101.   B. Santa
:
Kami yang memanggilmu . . .
102.   R. Egois
:
Oh . . . rupanya bu Santa dan teman-temannya.
103.   B. Santa
:
Lho, kamu kok sudah kenal dengan aku?
104.   R. Egois
:
Iya, dong . . . soalnya aku 'kan pernah masuk rumah bu Santa, untuk mencuri karung pak Santa hi . . . hi . . .hi
105.   B. Santa
:
Mengapa kamu mencuri karung kami?
106.   R. Egois
:
Soalnya aku heran pada pak Santa. Mengapa setiap tahun dia selalu memberikan hadiah pada anak-anak? Padahal pak Santa 'kan tidak pernah mendapat apa-apa dari anak-anak? Aku tidak habis pikir, mengapa dia mau bersusah payah menyediakan hadiah, kemudian pada malam yang dingin dia berkeliling untuk membagikan hadiah itu. Menurutku itu terasa aneh!
107.   B. Santa
:
Itu yang namanya pengorbanan. Pak Santa meniru pengorbanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.
108.   Dora
:
Ya, Yesus mau mengorbankan diri-Nya. Dia disalib di Gologota, supaya kita bisa diselamatkan.
109.   Diego
:
Kalau kita mau selamat, kita cukup menerima hadiah dari Tuhan Yesus.
110.   R. Egois
:
Jadi, aku tidak harus memberi apa-apa kepada Yesus untuk menerima keselamatan?
111.   B. Santa
:
Tidak perlu. . . Kamu cukup menerima hadiah dari Tuhan Yesus, yaitu hadiah keselamatan. Itu saja. Nah, karena pak Santa sudah menerima hadiah keselamatan dari Tuhan Yesus, maka pak Santa ingin mengucapkan terimakasih kepada Tuhan. Caranya, pak Sannta membagikan hadiah-hadiah pada anak-anak.
112.       R. Egois
:
Oh, begitu to? Apakah aku boleh minta hadiah dari Tuhan Yesus?
113.       Dora
:
Boleh saja. Hadiah ini diberikan kepada semua orang, kok.
114.       R. Egois
:
Bagaimana cara mintanya?
115.       Diego
:
Lipat tangan, tutup mata, lalu berdoa pada Tuhan Yesus
116.       R. Egois
:
Bagaimana cara melipat tangan?
117.       Dora
:
Teman-teman, si raksasa Egois, teman kita ini ingin diajari cara melipat tangan. Kita bantu yuk!
[Dora mengeluarkan puzzle sederhana. Dora mengajak satu atau dua penonton untuk menyusun kepingan-kepingan itu sehingga menjadi gambar tangan yang sedang melipat untuk berdoa.]


118.       R. Egois
:
Oooooo sekarang saya sudah tahu. Oke deh kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku kan berdoa.
119.       Diego
:
Eh, tunggu dulu . . . Dimana karung itu berada?
120.       R. Egois
:
Tanya saja pada Raksasa Pemberontak . . . Daaaaaa [Pergi]
121.       Dora
:
Wah, bagaimana sih Raksasa Egois, tuh. Kita 'kan nggak tahu dimana Raksasa Pemberontak berada.
122.       Bud
:
Kita panggil saja namanya . . .
123.       Diego
:
Teman-teman, bantu kami, ya . . . Yuuuk kita bersama-sama memanggil raksasa Raksasa Pemberontak [Mengajak penonton memanggil nama raksasa Pemebontak. Raksasa Pemberontak]
124.   R. Pemberontak
:
Siapa yang memanggil namaku?
125.   B. Santa
:
Kami yang memanggilmu . . .
126.   R. Pemberontak
:
Oh . . . rupanya bu Santa dan teman-temannya.
127.   B. Santa
:
Kembalikanlah karung pak Santa, yang kamu curi.
128.   R. Pemberontak
:
Enak saja. Nggak bisa dong. Soalnya, kalau karung itu ku kembalikan, anak-anak tidak lagi memberontak pada orangtua. Mereka jadi patuh pada orang yang lebih tua. Kalau disuruh guru belajar di rumah, mereka mau belajar di rumah. Kalau disuruh Bapaknya menyiram tanaman, mereka mau menyiram tanaman. Kalau diminta membanntu Ibu di dapur, mereka mau membantu.
129.   Dora
:
Itu bukan karena hadiahnya, yang menjadikan mereka jadi patuh.
130.   R. Pemberontak
:
Terus, karena apa, dong?
131.   Diego
:
Karena anak-anak itu mencontoh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus itu patuh pada perintah Bapa-Nya. Apa saja yang diperintahkan oleh Bapa-Nya, Tuhan Yesus mau mematuhi-Nya. Bahkan ketika diperintahkan untuk mati di kayu salib, Tuhan Yesus tidak membantah perintah Bapa-Nya. Dia rela mati di kayu salib.
132.   Bud
:
Tapi, tiga hari kemudian, ia bangkit kembali. Begitu 'kan Diego
133.   Diego
:
Iya, Bud. Tuhan Yesus memang mati, tapi hidup lagi. Sekarang, Dia ada di sorga.
134.   Dora
:
Nah, sebagai murid Tuhan Yesus, kita juga harus meniru ketaatan Tuhan Yesus. Kita harus patuh pada perintah Tuhan dan taat pada perintah baik orangtua. Begitu ceritanya.
135.   R. Pemberontak
:
Oooo . . . begitu ceritanya. Kok kalian bisa tahu banyak, sih?
136.   Diego
:
Iya, dong . . . . kami 'kan membaca Alkitab. Di dalam Alkitab  itu, kita bisa membaca cerita tentang Tuhan Yesus. Selain itu, ada juga cerita lainnya yang asyik. Contohnya, ada cerita orang yang dimakan ikan, ada keledai yang bisa ngomong seperti manusia, orang mati yang hidup kembali, air bisa menjadi anggur, orang yang digigit ular tapi tidak mati. Pokoknya ceritanya asyik-asyik banget. Baca saja sendiri, kalau tidak percaya.
137.   R. Pemberontak
:
Tapi aku tidak punya Alkitab. . . .
138.   Dora
:
[Kepada penonton] Teman-teman, raksasa Pemberontak ini tidak punya Alkitab. Bagaimana kalau kalau kita beri Alkitab. Setuju? Kalau begitu, bantu saya menemukan Alkitab ya?

[Dora mengajak penonton menemukan Alkitab di dalam gambar]

139.       R. Pemberontak
:
Terimakasih, ya . . . Asyik sekarang aku bisa membaca cerita yang seru-seru. Aku pergi dulu ya. Aku mau membaca Alkitab ini.
140.       Diego
:
Eh, tunggu dulu . . . Dimana karung itu berada?
141.       R. Egois
:
Tanya saja pada Raksasa Kebencian dan Raksasa Kemarahan . . . Daaaaaa [Pergi]
142.       Diego
:
Teman-teman, bantu kami, ya . . . Yuuuk kita bersama-sama memanggil raksasa Raksasa Kebencian dan Raksasa Kemarahan [Mengajak penonton memanggil nama Raksasa Kebencian dan Raksasa Kemarahan. Mereka masuk panggung sambil membawa karung]
143.   R. Kemarahan dan R. Kebencian
:
Siapa yang memanggil nama kami
144.   B. Santa
:
Kami yang memanggilmu . . . kembalikanlah karung pak Santa
145.   R. Kemarahan
:
Nggak usah, ya. . . .karung ini akan tetap kami simpan. Soalnya, jika malam Natal nanti pak Santa tidak membagikan hadiah, maka anak-anak akan kecewa. Mereka akan ngambek, menangis, merengek-rengek setelah itu marah pada Santa Klaus.  Maka, anak-anak itu akan menjadi pengikutku. Mereka akan jadi anak buah raksasa Kemarahan ini.
146.   R. Kebencian
:
Ya . . .ya . . .ya . . . karena batal mendapat hadiah, maka anak-anak menjadi kecewa. Mereka akan membenci pak Santa . . . hi . . hi...hi.... lalu mereka akan menjadi pengikutku. Mereka akan menjadi anak buak raksasa Kebencian ini.
147.   B. Santa
:
Pikiranmu itu keliru.  Asal kamu tahu saja, ya . . . anak-anak Kristen itu tidak mudah marah. Dia juga tidak gampang membenci orang lain.
148.   R. Kemarahan
:
Lho, kok bisa begitu? Mereka 'kan batal mendapat hadiah?
149.   Dora
:
Soalnya, Tuhan Yesus mengajarkan supaya anak-anak Kristen itu mengasihi Tuhan dan sesama.
150.   Diego
:
Bahkan kepada musuh pun kami juga harus mengasihi. Meski musuh kami menyakiti kami, namun kami tidak akan membenci dia. Kami harus tetap mengasihi dia.
151.   R. Kebencian
:
Jadi walaupun kami tetap menyimpan karung ini, dan pak Santa gagal membagikan hadiah, anak-anak itu tidak akan menjadi marah dan benci.
152.   B Santa
:
Kalau anak-anak itu benar-benar menjadi murid Tuhan Yesus, maka mereka tidak akan menjadi marah dan benci.
153.   R. Kemarahan
:
[Berkata kepada raksasa Kebencian] Jadi, tak ada gunanya dong, kita menyimpan karung ini.
154.   R. Kebencian
:
Iya . . . lagipula, aku juga selalu merasa takut jika menyimpan karung ini terus-terusan. Aku selalu takut ketahuan. Aku takut ditangkap polisi.
155.   R. Kemarahan
:
Bagaimana kalau kita kembalikan saja karung ini.
156.   R. Kebencian
:
Setuju. Kita kembalikan saja deh. [berkata kepada bu Santa] Bu Santa, kami memang yang mencuri karung itu. Saya pikir, dengan mencuri karung itu, maka anak-anak di dunia ini akan menjadi jahat. Ternyata perkiraan kami keliru.
157.   R. Kemarahan
:
Kami minta maaf untuk kesalahan kami. Maukah bu Santa memaafkan kami.
158.   Bu Santa
:
Tentu saja. Saya akan mengampuni dan memaafkan kesalahan kalian. Tuhan Yesus pernah mengajarkan "Doa Bapa Kami.' Salah satunya berbunyi demikian "Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." Tapi perbuatan itu jangan diulangi lagi, ya?
159.   R. Kebencian  & Kemarahan
:
Ya . . . [Sambil menyerahkan karung kepada bu Santa. Tiba-tiba HP bu Santa berdering]
160.   Bu Santa
:
Sebentar . . . sebentar HP-ku berbunyi [melihat layar HP, untuk mengetahui siapa yang menelepon] Oh, rupanya pak Santa yang menelepon. Halo . . . iya nih . . . Aku sekarang ada di Salatiga. Saya bersama Dora, Diego dan Bud sedang mencari karung . . . .  panjang ceritanya, Pa . . .  nanti saja kalau sudah di rumah aku ceritakan. . . . Hmmm . . .  iya . . . sekarang saya ada di Salatiga . . .[Bu Santa mendengarkan suara penelepon. Setelah itu menutup HP-nya] Teman-teman, pak Santa tadi berkata, karena kita sudah ada di Salatiga, maka disuruh membagikan hadiah kepada anak-anak di Panti Asuhan ini. Ayo . . . bantu aku bagi-bagi hadiah
[Bu Santa membuka karung dan membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak]



Postingan Terkait



0 komentar: